Sabtu, 02 November 2019

Pesan dari Surat Kabar (chapter terakhir)


Sepulangnya dari restaurant, Sean dikejutkan dengan beberapa orang-orang yang sudah tak asing baginya dan cukup meramaikan isi rumah mereka. Di pojok sofa ruang keluarga ada Dean bersama Proffesor Duke yang berdiri saling berhadapan, James, dan teman kantornya yang lain, beberapa Dokter dan Perawat kenalan Dean. Chef Steve sampai Jella sekalipun.

"Lembur Sean?"

"Ibu?"

"Ke kamarmu sebentar nak, ganti terlebih dahulu pakaian kerjamu. Menyapa bisa nanti."

"Ayah, tapi..."

"Tidak terjadi apapun sebelum tanpamu dan tak akan terjadi apapun juga sebelum adanya dirimu," potong Flora, ibu beranak tiga Dean-Sean-Nara.

Dan enyalah anak kedua dari tiga bersaudara dalam peradaban manusia-manusia bertampang tegang barusan. Pemandangan tadi menggelitik jiwa terdalamnya bahwa hal yang dikhawatirkannya selama ini akan terjadi.

Kedua orang tuanya yang beberapa tahun belakangan ini bersemayam di benua Eropa itu pun turut hadir di sana. Ayah dan ibunya yang memang sudah bercerai sejak dulu dan sangat jarang dapat dikumpulkan dalam satu event, kini tampak duduk berdampingan satu sama lain.

Melupakan kisah miris keluarga broken home-nya. Ada sesuatu yang lebih penting dari itu, tak sampai lima belas menit Sean mandi dan kembali turun dengan pakaian rumahan yang lebih santai.

Semua sudah berdiam diri dengan tenang di atas tempat duduk maroon berbahan lembut di sana. Lirikan Sean jatuh pada mata Dean yang sembab, secara naluriah netranya berputar random pada mata-mata lainnya di ruangan tersebut.

"Kalian semua habis menangis?" Lebih terasa seperti peryataan dibanding pertanyaan.

Tidak puas dengan reaksi semua orang yang masih setia enggan buka suara maka, Sean lanjutkan "Mengenai Nara?"

Bravo, Jella berseru lirih teramat lirih.

"Ikhlaskan Nara Kak."

"Delusimu dan Dean adalah serangan mental mendadak yang bekerja pesat sehingga mempengaruhi pola pikir kalian," ucap Proffesor Duke lugas.

Flora meringis sesak, tangan kirinya merangkum jemari Sean yang tepat duduk di sebelahnya. Mata bengkak wanita itu kembali meneteskan isinya. Tak menyangka akan seperti ini kepahitan dalam keluarganya. Seandainha ia bisa memutar-balikkan waktu. Seandainya saja.

"Kecelakan pesawat itu sungguh tak terduga Sean. Tidak hanya Nara, seluruh penumpang dinyatakan tak ada yang selamat," lanjut Proffesor Duke.

"Bukan karena Pneumonia maupun Anxiety Disordernya. Bahkan konsultasi rutin yang kau dan Dean lakukan mengenai Nara yang mengidap CIPA semenjak lahir, itu sia-sia. Nara sudah berpulang Sean. Jenazahnya ditemukan tim SAR dalam keadaan hangus terbakar. Dan hanya cincin serta kalung ini yang menjadi barang bukti bahwa jenazah itu benar Nara." Jelas Proffesor Duke panjang sembari menyerahkan bungkusan perhiasan Nara pada Sean.

Yang diterima pria itu dengan satu tetes kesakitan luar biasa. Digenggamnya erat plastik bening berisi kalung dan cincin Nara. Benar, kalung berinisial DNS itu hadiah ulang tahun Nara ke-15 darinya. Ia yang membelikannya sendiri di tengah hujan lebat demi pulang membawa kado untuk sang adik.

"Peristiwa pingsannya Nara bahkan sudah berlalu beberapa bulan lalu Kak," sambung Jella bersama isak tangisnya.

"Surat kabar yang saya berikan pada anda minggu lalu adalah berita dimana jatuhnya pesawat yang ditumpangi Nara Dok," Dokter Anne yang bersuara sembari menuju pandang pada Dean.

"Tidak pernah ada Nara di kantin siang itu Dean," James ikut berpartisipasi.

"Nara hanya imajinasi kalian yang merasa terpukul karena kepergiannya. Membuat kalian berhalusinasi dan berkeyakinan bahwa Nara masih ada, tidak pernah pergi," lagi Proffesor Duke meluruskan kebuntuan.

"Dan tidak ada makan malam bersama Nara hari ini Sean. Menu kesukaan Nara yang kau pesan bahkan tak tersentuh barang sedikit, tawamu menjadi tontonan gratis para pengunjung restaurant yang mengira kau itu kurang waras," imbuh Steve sehalus mungkin. Ia takut semakin melukai perasaan sahabat karibnya.

Langit semakin menghitam, mendung yang tampak menghiasi langit sore tadi, benar-benar jatuh mengguyur bumi sampai terlewat deras. Dinginnya malam di panasnya gejolak amarah dan luka serta duka dalam satu waktu.

Sean bergetar keseluruhan secara batin. Namun, angkuh berlakon lagaknya kuat. Di sebrangnya ia lihat Dean menangis pilu tanpa suara.

"Seharusnya ibu tidak meminta Nara menemuiku. Bagaimana bisa aku menyuruhnya bepergian sendiri tanpa kedua kakaknya. Benar-benar bodoh!!" jeritan sarkas terakhir Flora yang membawanya limbung tiba-tiba. Kesadarannya pun menipis. Ia pingsan dalam pangkuan putra keduanya.

Proffesor Duke dan sang mantan suami tergesa membantu Flora di pindahkan ke kamarnya. Sedang di ruang keluarga Jella satu-satunya yang bersuara keras dengan tangisnya. Gadis sebaya Nara dan juga sahabat baik mendiang.

Sean lumpuh karena waktu terasa menohok jantungnya hingga lebam tak terobati. Adik kandung tercintanya, Princess cantik terhebat di keluarganya telah meninggalkan dunia. Pergi tuk selama-lamanya, meninggalkannya, Dean, orang tuanya, kehidupannya.

Selama delapan belas tahun hidup gadis sedarah dengannya itu, tak pernah terselipt satupun cerita jelek mengenai Nara. Ia sakit, komplikasi sejak kecil. Pengidap CIPA yang sampai sekarang masih belum tahu cara menyembuhkannya. Namun, tak pernah sekalipun baik Sean maupun Dean bahkan penghuni rumah lainnya mendengar Nara mengeluh sakit, lelah, takut, dan segala macamnya. Semua terlukis apik dalam lengkungan indah senyumnya.

Nara, Fabioletta Anara. Putri semata wayang keluarga
Harlen. Dinyatakan tutup usia pada tahun 2019 dalam tragedi jatuhnya pesawat Internasional menuju Hambrug, Jerman yang berkapasitas empat ratus penumpang.








Selesai~


Sorry for typos
Kalau ada waktu, beberapa kata atau kalimat yang kurang tepat akan saya perbaiki ya hehe..














Notes:
• Pneumonia : Infeksi yang menimbulkan peradangan pada kantung udara di salah satu atau kedua paru-paru, yang dapat berisi cairan.
• Anxiety Disorder : Gangguan kecemasan
• CIPA (Congenital Insensitivity to Pain with Anhidrosis) : Penyakit gangguan dan kemunduran sistem saraf yang membuat penderitanya kehilangan rasa atau sensasi dari luar. Seperti tidak dapat merasakan sakit bahkan ketika tubuhnya terluka atau dicelupkan pada air yang baru mendidih sekalipun.

Jumat, 01 November 2019

Pesan dari Surat Kabar (menuju ending IV)

"Berhenti menggerutu Nara, kau sendiri yang meminta ikut bersamaku." Tak membuat gadis bergaun bunga tersebut meredakan omelannya.

"Setengah jam lagi, sampai pekerjaanku selesai," tutup Sean kembali fokus pada berkas-berkas perusahaannya.

Dilihat dari sisi manapun, jelas tercetak ketidaksukaan Nara pada situasi sekarang. Mulut komat-kamit mengumpat sang Kakak sedang netra, tak henti menatap sinis Sean. Untung kakak.

Setengah jam yang Sean janjikan nyatanya molor hingga berjam-jam berikutnya. Tepat pukul lima sore barulah pria dewasa tersebut menutup laptop dan seperangkat berkas kerja lainnya. Fokusnya seketika jatuh pada Nara yang terduduk bersandar pada sofa, kakinya ia ayunkan keras sampai terdengar bunyi debuman.

Sean mendekat dan membawa Nara dalam pelukan, tak lupa melantunkan maaf sebab pekerjaan yang sungguh di luar perkiraan.

"Makan malam di tempat favoritmu sepertinya ide bagus." Sean mencoba bernegosiasi. Meski kesalahan ada pada Nara, gadis itu yang memaksa ikut. Namun, pria memang tempatnya kesalahan, seorang kakak ditakdirkan harus selalu mengalah, dan perempuan tidak pernah salah. Maka lengkap sudah cobaan hidupnya.

Perubahan ekspresi Nara yang semula cuek-cuek saja mulai mengembangkan senyum kecil. Menoleh pada Sean dan menyetujui penawaran menggiurkan tersebut.

"Untung sayang," gumam Sean sepelan mungkin.

Di depannya Nara sudah berjalan dengan semangat, sesekali tangannya melambai pada staff kantor yang berada di kanan-kiri ataupun sekedar melewatinya.

Sean tak mampu menyembunyikan tawanya. Tingkah kekanakan Naralah yang menyebabkan pria sedingin Sean menguarkan tawa di hadapan umum. Sontak saja para pegawai lainnya dibuat terpesona. Yang selama ini teramat segan untuk tersenyum padanya sekarang mereka bahkan mereka ikut tertawa.

"Manager kita sedang dalam suasana hati yang bagus."

"Tuhan menciptakan Pak Sean sembari tersenyum."

"Inilah yang disebut ketampanan yang hakiki."

Begitu kurang lebih bisik-bisik pegawai kantornya. Sepanjang Sean melintas, nihil prasangka buruk yang mereka bicarakan. Sebagian besar kaum hawa yang mengaku jatuh cinta sejak pandang pertama padanya semakin tergila-gila. Dan jajaran para kaum sebangsa Sean yang tersentil jiwa ketampanan mereka tampak minder.


***


"Kenapa lama sekali mengemudinya sih Kak, aku sudah tidak sabar," semprot Nara di tengah perjalanan.

"Lihat ke depan sayang." Kuda besi yang mereka naiki terjebak macet karena lampu merah. Antrian cukup panjang, untuk melaju saja cukup tiga meter paling besar. Belum lagi pengendara sepeda motor yang menyalip sana-sini.

"Ckk, seharusnya kita terbang saja." Tak Sean hiraukan. Biarlah adik cantiknya itu menggerutu sampai puas. Diam-diam bibirnya terbirit senyum simpul, dan usapan pada pualam Nara yang memerah sebab menahan emosi.

Satu jam setelah menghadapi kemacetan yang menyebalkan, Sean-Nara sampai pada restaurant yang mereka tuju. Langit mulai menggelap bahkan tampak lebih gelap dari biasanya. Melirik ke tempat duduk sebelah, Sean mendapati Nara tertidur sembari memeluk seat belt.

"Hoam, Kak kenapa tidak membangunkanku. Kita sudah sampaikan? Berapa lama kita berdiam diri di sini. Oh astaga, di luar sedang hujan," heboh Nara dengan pertanyaan beruntunnya.

Sean terkekeh gemas dibuatnya "Harus kumulai dari mana untuk menjawab hmm?" tanyanya dengan tangan mengelap noda ruam di pelipis Nara.

"Tidak perlu Kakak jawab, kita langsung masuk saja. Aku rindu masakan Chef Steve." Lagi-lagi Sean dibuat tertawa gemas.


***


"Sean? Sudah lama tidak berkunjung. Ingin memesan hidangan seperti biasa?" ramah pramusaji yang sudah sangat kenal dengan Sean dan keluarga.

Ia tanggapi dengan gelengan kecil tak luput dari senyum manisnya. "Tolong menu yang biasa Nara suka," ucap Sean jelas.

Lengser dari pijakan awal untuk menyusun pesanan pelanggan setia tempatnya bekerja. Steve pamit setelah memberi tepukan beberapa kali pada bahu kanan Sean.

"Banyak mata yang memandang ke arah kita Kak, kenapa?"

"Karena Chefnya langsung yang meladeni kita. Mereka pasti iri, lagi pula Kakak dengar Steve cukup populer di sini. Penggemarnya banyak," jelas Sean sembari mencuri pandang ke Steve yang sedang memasak di sana.

"Bukan karena aku yang terlalu cantik?"

"Benar, karena kau terlalu aneh," sarkas Sean yang membuat Nara mengerucutkan bibir tak suka.

Selagi menunggu pesanan datang, Sean-Nara tak absen melucu demi menghalau kesepian. Terlebih Sean, satu hari ini adiknya ia anggurkan membosankan.

Candaan kakak beradik itu mengalir dengan sendirinya membuat tawa di antara keduanya enggan mereda. Hingga beberapa pasang mata menatap ke arah Sean dengan bingung. Sean tampak berdeham pelan meyadari tatapan beberapa pelanggan yang mungkin merasa terganggu. Beda dengan Nara yang masa bodoh keadaan sekitar.

"Akhir yang indah."










***







Sorry for typos

Kamis, 31 Oktober 2019

Pesan dari Surat Kabar (menuju ending III)


"Dean, sadarlah." Bukan hanya satu-dua kali kalimat yang sama terlontar dari mulut James dan kawan-kawan. Pasalnya, kelakuan teman seangkatan masa kuliahnya dulu tidak dapat ia terima nalar.

"Maaf ya Kak James, Kak Dean memang selalu berlebihan," sambar Nara cepat.

"Tidak Nara, dan asal kau tahu saja pria licik di hadapanmu itu yang berlebihan. Mendiagnosis gejala pasti saja sampai harus memanggil Prof. Loey dan Dokter Choi," balas Dean sewot. Pandangannya seakan menghunus James dengan seribu belati sehabis diasah.

James, Willis, Dylan, dan satu orang Perawat wanita saling bertukar pandang. Mereka bertanya dalam bahasa gestur, sedang James jengah dan memutar bola mata asal.

Satu persatu dari perkumpulan Dokter dan Perawat di kantin Rumah Sakit Greenword tersebut undur diri. Menyisakan Dean, James, dan Nara di sana.

"Kau tahu Dean, aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri. Jika terlalu berat, berbagilah padaku," tutup James sebelum enyah dari hadapan Dean dan Nara. Tepukan kecil ia sarangkan di bahu kokoh Dean.

Nara menatap kepergian James sendu, ada rasa tersendiri yang mengusik ketenangannya. Ia sudah terlampau banyak bermain peran, masih enggan buka suara dan mengembalikan Kak Deannya seperti semula.

"Semua salahku, karenaku."



***

Setelah puas menghabiskan waktu satu harian penuh dengan Kakak tertuanya, Nara merasa semuanya perlu ia akhiri lebih cepat. Besok, waktunya dengan Sean. Nara berharap Sean akan sedikit kosong demi menjaga waktu penuh untuknya. Sebagaimana yang Dean lakukan padanya

Jam menunjukkan pukul delapan malam, satu jam lau merek habiskan bercanda ria di meja makan. Bahkan Proffesor Duke ikut berpartisipasi di sana, pria lanjut usia yang paling sibuk selama hidup Nara yang ia kenal. Tapi, rela membatalkan rapat penting sesama mitra kerjanya.

Tawa dan kekehan keras ketiga pria di sana melihat bagaimana menggemaskannya Nara ketika merajuk meminta izin ikut pelajaran olahraga. Selama ini, tak pernah sekalipun ia merasakan berlarian dan bermain basket bersama teman-teman sekolahnya.

"Kak Sean aku mohon, izinkan aku ya hmm kali ini saja. Aku berjanji tidak akan kelelahan."

"Kalau begitu jangan ikut ke kantorku besok," ucap Sean lembut. Pandangannya tak lepas dari seperangkat alat makannya.

"Kakak... mana bisa seperti itu."

"Kenapa tidak bisa?" tanya Proffesor Duke penasaran.

Meski rautnya tampak tak suka, Nara melanjutkan "With second bro, am I right?" Ia merasa terpojok dengan tatapan mengintimidasi kedua kakak dan Ayah angkatnya ini.

Dean mendengus ringan, dan kekehan kembali Sean tampilkan. "Ya ya baiklah, apapun untukmu," ucap Sean sembari mengusak gemas surai legam sang adik.

Proffesor Duke ikut tertawa, sesekali netranya memperhatikan Dean-Sean prihatin. Bibirnya mungkin melihatkan tawa lebar dan semburan lawak membahana tapi, hatinya berteriak kesakitan. Ia mengakui Nara putrinya maka kedua kakak gadis itu juga putranya.

Melihat ketulusan senyuman ditiap lengkungan yang kedua pria dewasa itu tunjukkan. Membekas nyeri sendiri di dasar relung Proffesor Duke. Tak sampai hati menanyakan perihal hati.

"Entah kenapa aku benci sekali dengan kalian tapi, tetap cinta dengan kalian." Begitu seterusnya. Godaan menyenangkan bagi Dean-Sean yang menyulut emosi Nara.

Ruang makan malam itu terdengar riuh sekali, suasana pecah dengan tawa riang pemilik rumah. Sahut-sahutan tiada henti memenuhi percakapan keempat orang tersebut.

Di ujung sana, di balik lemari pendingin dekat meja makan. Pembersih rumah Dean dan kedua adiknya menatap sendu senda gurau kakak beradik tersebut. Air matanya yang berbicara sebab mulut tak mampu menjabarkan kenyataan pahit masa ini.


***








Sorry for typos

Rabu, 30 Oktober 2019

Pesan dari Surat Kabar (menuju ending II)

Begitu banyak bahasa dan istilah kedokteran dalam bahasan mereka yang membuat Sean bingung sendiri. Beberapa teori penjelasan dari Proffesor Duke bahkan menguap begitu saja baginya. Pneumonia sampai Generalized Anxiety Disorder, sedang terjadi konflik batin pada ketiga makhluk hidup sekelas manusia di sana.

Terlalu bodoh jika bertanya arti panjangnya kalimat dua orang Dokter itu. Sedang ia tahu, kondisi adiknya semakin memburuk. Dean terpekur menyelami pandangan kosongnya ke sebuah figura berisi air terjun, berlembar-lembar kertas putih di hadapan Prof. Duke bahkan menyerupai kulit Kerbau kering.

Di luar sedang berlangsung hujan cukup deras namun, tak terdengar geraman bergetar dari langit. Posisi duduk yang kian gusar beserta hati bertambah risau, Sean bangkit sembari memasukan tangan pada saku celananya.

"Insiden di ruang olahraga bulan lalu, Nara tak merasakan apapun," ungkap Dean.

Anggukan Prof. Duke memperjelas semuanya. Bahkan tepukan hangat ia hunuskan tepat di bahu Sean yang masih setia duduk di depannya.

"Nara dia..."

Tiba-tiba saja pintu ruangan Prof. Duke terbuka lebar dan menampilkan gadis yang tengah mereka perbincangkan berdiri di depan sana. Seragam sekolahnya tampak sempurna menempel di tubuh rampingnya, ransel kuning muda turut bertengger apik pada punggung kecilnya.

"Wah, kalian pasti merindukanku. Benar?"

Tanpa kata, Sean memberi jawaban dengan pelukkan tegasnya. Menuntun Nara perlahan dan membawanya dalam gendongan setelah langkah keempat. Gadis berambut sepunggung itu memekik ringan namun tertawa setelahnya.

Sampai mendarat di alam sofa, Dean memutar langkah menuju Nara, guna memberikan kecupan singkat pada dahi gadis tersebut. Prof. Duke yang meyaksikan meneteskan air mata. Dua bocah yang selalu berebut sepeda merah roda empat dahulu, kini telah tumbuh menjadi seorang kakak yang luar biasa hebat dan sempurna bagi adik bungsu mereka.

Ada kisah di baliknya, bagaimana sikap possesif dan antisosial kedua lelaki bersaudara tersebut ciptakan. Terlalu mengharukan jika kembali dibahas sekarang.

"Kalian tahu bucin?" tanya Nara di antara Dean dan Sean. Kemudian bertanya melalui tatapannya pada Prof. Duke di depan sana.

Ketiga pria itu menggeleng bersamaan, menyembutkan tawa geli dari Nara yang sedari tadi menahan ledakan tawanya.

"Sepertinya mereka memang bucinku Prof hahaa...."

Sampai merah pipi dan telinganya merasa amat lucu, sesekali gadis berseragam itu menyusut air matanya yang keluar perlahan. Amat menggelikan.

"Budak cinta," eja Sean setelah memeriksa dari laman pencarian di internet.

"Kakak dan Kak Dean, tentu saja," sambung Nara sembari menunjuk kedua kakaknya bergantian.

Meski sulit dan teramat sakit, tertawa adalah satu-satunya ekspresi yang ketiga kaum adam di sana laukukan. Teramat, khususnya mereka bukan baru mengenal gadis ini delapan atau sepuluh tahun. Setengah dari umur Prof. Duke telah ia terapkan untuk menjaga dan melindungi anak-anak sahabat karibnya.

Tiga puluh tiga tahun lalu di Rumah Sakit tempatnya bekerja kini. Hingga sudah lebih dari kepala enam, rasa sayangnya semakin besar tanpa kata luntur. Mendiang istri tercinta yang begitu berharap pada kelahiran bayi perempuan mereka namun, takdir berkata lain dan membawanya pergi bersama sang buah hati pada kehidupan yang abadi.

Dua tahun setelahnya, lahirnya Nara menghadirkan rasa sayang seorang Ayah kembali lagi. Prof. Duke muda teramat bahagia sampai mengangkat Nara bayi menjadi putri angkatnya. Keluarga Nara bahkan tak ambil pusing dan ikut berbahagia. Saat itu, kecerian Prof. Duke muda seakan membara.

Disaat yang bersamaan, lahirnya bayi perempuan cantik jelita itu merosotkan semangat hidup semua orang di sana. Ayah dan Ibu bayi, kedua kakak laki-lakinya yang masih duduk di bangku SD pun dengan Proffesor Duke sendiri.

Harapan baru dan kebahagian baru muncul bersama tamparan sarkas yang menyayat pilu. Meski sedih hingga meluruh dan benci tak boleh menderu, inilah permainan takdir yang bertahun-tahun lalu setia tegar dihadapi orang-orang di sekeliling Nara. Orang-orang yang amat sangat menyayangi dan mencintainya.


***











Sorry for typos

Selasa, 29 Oktober 2019

Pesan dari Surat Kabar (menuju ending I)


"Harus sampai kapan kita bermain kucing-kucingan seperti ini Dean! Aku tahu maksudmu untuk menjaga kesehatan psikisnya tapi, semua juga berhubungan dengan dirinya."

Hening, dua detik bahkan sampai lima belas menit kemudian. Pria bersnelli putih dengan name tag Dean di atas sakunya tampak pucat. Mematung dan hanya bola mata yang bergerak gusar. Sesekali menyugar rambutnya sembari mendesah frustasi.

Ruangan ber-ac itupun terasa sangat tak nyaman baginya. Suhu benda persegi panjang ia turunkan hingga delapan derajat Celcius namun, keringat tiada henti mengalir deras. Matanya membuka-tutup dengan kepalan tangan kanan dan kirinya.

Saat akan membuka mulut, ketukan dari luar ruangan Dean mengalihkan perhatian kedua pria dewasa disana. Karena pemilik ruangan duduk sehingga membuat pihak yang berdiri untuk membuka. Mempersilahkan wanita bersetelan sama dengan pria di hadapannya membungkuk hormat.

"Dokter Dean, Profesor Duke menginginkan anda untuk segera mengambil keputusan. Sore ini beliau akan terbang ke Selandia Baru dan siang ini sedang menyiapkan berkas untuk penelitian, lusa," jelas Perawat Katty panjang.

Sampai beberapa penjelesan berikutnya kedua pria dewasa itu tangkap tanpa berkedip. Dasi yang menggantung indah di leher Dean, ia tarik sarkas. Satin bermotif garis itu terasa mencekik lehernya, kemudian dicampakan sembarang dan melancarkan tinjunya di udara.

Sean, yang sedari tadi berdiri membelakangi sang kakak tak kalah kacaunya. Pintu yang telah tertutup rapat menjadi bahan pelampiasan pantofel hitamnya mengukir jejak.

"Beliau tidak menjamin nona Nara dapat bertahan lebih lama."

"Dean tolong, mana otakmu yang cerdas itu? GUNAKAN SEKARANG!"

"Berapa lama?"


"Maaf Dok, Prof. Duke akan segera mengirim berkasnya kepada anda." 


Dan di sanalah kemurkaan Sean tak terbendung. Sebelum Dokter Flora benar-benang hengkang, anak kedua dari tiga bersaudara Dean-Sean-Nara itu sempat melepas bogem mentah di pipi sang dokter dan dilerai oleh dokter wanita tersebut.

Meski suasana sempat terasa menegangkan namun, segera melunak ketika pesan teks baru, muncul di ponsel keduanya dan tertera nama Nara sebagai pengirim. Disaat yang sama pesan teks baru kembali singgah di layar ponsel Dean dari Proffesor Duke. Dimana ketakutan Sean semakin menjadi dan menubruk Dean sembari bersimpuh dengan derai air mata tak terbendung.

Sama halnya dengan sang adik, Dean tak kuasa menahan tangisnya sembari memanggil sendu nama Nara.

"KATAKAN SESUATU DEAN!!" lagi, emosi Sean sebab beberapa menit lalu hanya kesunyian dengan deru nafas masing-masing yang terdengar.

Alih-alih menjawab, Dokter ahli bedah Kartodiotoraks itu justru melenggang pergi meninggalkan Sean di ruangannya. Tak ada sepatah kata yang terucap dari bibirnya bahkan melirik sekilas orang-orang yang dilaluinya pun enggan ia lakukan.

Begitu sampai pada kuda besinya, dilarikan kendaraan beroda empat itu dengan tergesa ke suatu tempat. Tak lupa memanggil pesan suara pada kontak Nara berulang kali. Hingga pada panggilan ke-3 Nara angkat. Dan membuat Dean semakin menggila mengendarai kuda besinya.

"Kak Dean, aku Jella. Nara tidak sadarkan diri saat pelajaran olahraga."


***









Sorry for typos

Minggu, 06 Oktober 2019

Lutung Bukan Kasarung

Oleh : Furi


Alkisah, di sebuah daerah di Pulau Jawa,terdapat sebuah  kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Prabu Tapa Agung yang dikenal memiliki sifat yang baik hati dan bijaksana. Beliau mempunyai dua orang putri yang bernama Purbararang dan Purbasari. Pada suatu hari, karena Prabu Tapa Agung sudah tua, ia menunjuk Purbasari, putri bungsunya sebagai penggantinya. Tetapi, sang kakak Purbararang menolak perintah sang raja, hingga terciptalah permasalahan pelik di sebuah kerajaan di tanah Sumatra Barat tersebut.

“Seluruh keluarga istana telah berkumpul, yang mulia Prabu Tapa Agung akan segera menyampaikan  titah kepada seluruh keluarga kerajaan,” ucap Menteri kerajaan.

“Aku sudah tua saatnya aku turun tahta. Aku akan menunjukmu, Purbasari sebagai penggantiku.”

“Aku adalah putri sulung, kenapa ayah menunjuknya sebagai penggantimu, seharusnya ayah memilihku,” sela putri tertua Prabu Tapa Agung dengan cepat dan lugas.

“Ya ayah, seharusnya Purbararang yang menjadi penerusmu!” sembari menscroll smartphonenya, Indrajaya berujar tenang. Sedangkan Purbararang sudah berang melihat kelakuan suaminya.

 “Tidak bisa, keputusanku sudah bulat.”

“Apa yang membuat ayah menunjuknya sebagai penerus kerajaan? Ayah dengar, aku jauh lebih berpengalaman dari Purbasari.”

“Tidak bisa, keputusan Ayah sudah bulat. Jangan menyela lagi Purbararang, sudah waktunya untukku luluran.”

“Terserah ayah sajalah, kalau begitu aku juga mau medicure-pedicure.” Ketus Purbararang tampak marah

Selepas mendapat mandat dari ayahnya, Purbasari duduk termenung di taman istana memikirkan kemungkinan-kemungkinan  yang akan terjadi jika dirinyalah yang menjadi pemimpin kerajaan. Disaat sedang merenungi nasibnya yang rumit, Putri Sekar, sahabat Purbasari mendatanginya.

 “Purbasari, apa yang kau lakukan disini?”

“Tidak tahu, aku hanya duduk apalagi,” ucap Purbasari sekenanya. Ketahui saja, dia sedang galau.

 “Dari pada duduk diam tidak ada pekerjaan, kita shopping aja kuy,” ajak Sekar.

“Kuy?” bingung Purbasari, terlihat dari kernyitan di dahinya.

“Kau ketinggalan zaman Putri.”

“Yasudah, ayo kita shopping,” dari pada berpusing ria, lebih baik iyakan saja ajakan temannya tersebut.
Maka, berangkatlah dua sekawan itu ke Super bukan market yang jaraknya tidak jauh dari Istana. Karena Purbasari tidak cukup sering berbelanja , sehingga ia hanya mendengarkan seputar pusat perbelanjaan tersebut dari sang kakak. Seingatnya, dua kali belok kanan, serong 14 meter ke depan, dekat lampu merah putar balik, masuk jalur tikus dan seterusnya ia lupa.



***



Keesokkan harinya, di halaman belakang istana Purbararang dengan sahabatnya, Putri Rika dan putri Nirmala sedang memikirkan rencana kotor untuk menyingkirkan Purbasari agar tidak menjadi penerus kerajaan. Ia tidak terima jika Purbasari harus menggeser tahta yang seharusnya ia yang menjalankannya. Hal tersebut membuat kemarahan Purbararang semakin memuncak hingga ia mempunyai niat mencelakai adiknya.

“Sungguh aku sangat membenci anak itu sekarang, tidak tahu diri sekali dia merebut hakku,” semprot Purbararang geram.

“Tenanglah tuan Putri,” ucap Rika pelan.
Di ujung sana, Nirmala lagi sibuk chatting. Sesekali ia menoleh menanggapi obrolan kedua sahabatnya.

“Lalu apa yang akan tuan putri lakukan terhadapnya?” sebenarnya ia malas berkata tapi, kedudukan Purbararang sebagai putri Sulung petinggi wilayah tempat tinggalnya tak bisa ia hindari. Apalagi, wataknya yang antagonis.

“Bagaimana lagi, aku harus membuatnya sekarat bila perlu keluar dari istana,” tutur Purbararang sembari tersenyum  miring.

 “Bagaimana caranya?” lagi, vokal Nirmala yang terdengar.

Sempat terjadi adu argumen diantara mereka bertiga. Namun, setelah berembuk rukun walau masih dibubuhi celetukan sarkas. Mereka sepakat pada ide mendatangi penyihir untuk mengutuk Purbasari.
Pagi menjelang hampir siang, setelah melewati perjalanan panjang akhirnya Purbararang dan sang suami sampai pada tempat yang ia tuju. Sebuah gubuk kecil di tengah hutan belantara.

“Astaga gubuk ini reyot sekali baunya juga sangat menyengat. Istriku kau yakin penyihir itu tinggal disini?” tanya Indrajaya sembari menelisik jijik kondisi gubuk.

“Menurut Sekar dan Nirmala begitu, sudahlah kenapa kau mengeluh saja sedari tadi.”

“Apa yang membuat anda berkunjung di gubuk tua saya ini wahai tuan putri Purbararang dan Prabu Indrajaya?” celetuk wanita parubaya yang tak kalah reyot dari gubuknya.

“Aku membutuhkan bantuanmu,” ucap Purbararang berterus-terang.

“Apa itu tuan putri?”

 “Bisakah kau menyihir saudariku Purbasari menjadi jelek?”

“Ofkors tuan putri tapi, apa imbalan untukku?”
Dilanjut dengan Indrajaya yang bernegosiasi dengan sang penyihir. Alih-alih kepingan emas atau duit yang banyak. Penyihir justru meminta satu set peralatan make-up keluaran terbaru dari Negeri Jiran. Yang tentunya disanggupi oleh sepasang suami istri licik tersebut.

“Lumayan beb, hemat lebih banyak. Kebetulan tadi aku liat Sofy lagi ada gratis ongkir,” tutur Indrajaya semangat lahir batin.
Mulut penyihir komat-kamit membaca mantra, sambil menggoyangkan jarinya membentuk pola abstrak.

***

 Keesokan paginya, disaat Purbasari terbangun dari tidurnya, ia terkejut setengah hidup mendapati wajahnya yang jelek dengan kulit bertotol-totol merah.

“Tidaaakkk!!!”

“Tuan putri ada apa, anda baik-baik saja? astaga,  Purbasari ada apa dengan wajahmu?” tanya Sekar heboh bukan main.

“Tidak tahu, Sekar kenapa sebenarnya diriku ini?”

“Bertahanlah tuan Putri, aku akan memanggil raja Tapa Agung segera.”

Setelah hampir lima menit Putri Sekar pergi, setelahnya, ia kembali bersamaan dengan datangnya Raja Tapa Agung beserta para pengawal kerajaan. Purbararang bersama kedua sahabatnya pun turut hadir meski agak terlambat. Dan tanpa sepengetahuan siapapun, diam-diam putri sulung Raja Tapa Agung tersebut tersenyum puas begitupun dengan sang suami.

 “Ya Tuhan, putriku ada apa denganmu nak?”

 “Ayah…” raungan Purbasari menghadirkan kepuasan tersendiri bagi Purbararang beserta sekutunya.

“Kulitmu bersisik seperti ular Tuan Putri,” ejek Rika.

“Wajahmu seperti rakyat jelata bahkan lebih parah dari itu, hih menjijikan,” tambah Nirmala semkain mendramatisir.

“Lihat ayah, Purbasari berubah menjadi monster menakutkan. masihkah ayah menunjuk orang yang terkutuk seperti itu sebagai pemegang tahta mu?” Purbararang optimis akan kemenangan.

 “Mustahil sekali dia menjalankan istana, bagaimana dengan rakyatku,” Raja Tapa Agung menatap kasihan putri bungsunya.

“Apa yang telah terjadi pada diriku ayah?!” tangisan Purbasari tampak sangat memprihatinkan.

“Orang terkutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang ratu!” lagi, koaran Purbararang semakin memanasi suasana.

“Maafkan ayahmu ini putriku, demi kesejahteraan rakyat kita, ayah mohon pergilah yang jauh dari istana. Jika penyakitmu masih belum membaik jangan pernah kembali ke kerajaan. Pengawal cepat usir Purbasari dari istana!”

Dari sanalah asal kehidupan Purbasari di hutan bermula, karena paksaan seluruh penghuni Istana bahwa parasnya yang buruk akan membawa bencana bagi kehidupan rakyatnya. Terlebih lagi, mandate dari Baginda Kerajaan yang tidak bisa diganggu gugat.

“Maafkan saya tuan putri.”

“Tidak apa-apa pengawal,” tutur Purbasari sendu. Meski sangat bersedih hati tapi, mungkin ini salah satu ujian hidupnya.

Kemudian, pengawal  segera membangun sebuah gubuk sederhana untuknya. Setelah selesai, dengan segera pengawal pamit untuk kembali kekerajaan. Tak lupa, melantunkan terima kasih sebab, telah berkenan membangunkannnya tempat tinggal. Kini, tinggallah Purbasari seorang.

***




Suatu hari, ketika Purbasari duduk di depan gubuknya, dia melihat sesuatu yang bergerak-gerak dari semak-semak, dan…

“Siapa disana?”

Muncul seekor kera dari semak-semak “Tuan putri, jangan takut, nama saya Lutung Kasarung. Saya sedang lewat dan tidak sengaja  melihat anda termenung sendirian disini.”
Sementara si Kera sedang menjelaskan panjang lebar, Purbasari justru terkaget-kaget dengan penglihatannya. Berbagai macam pertanyaan muncul secara beruntun di kepalanya. Bagaimana seekor kera bisa sebesar ini, kenapa wajahnya bukan seluruhnya menyerupai monyet, dan yang paling membuat Purbasari tercengang adalah…

“Hei, adakah Monyet yang dapat berbicara?”tanyanya dengan tampang takjub namun takut lebih kentara.

 “Aku bukan Monyet tuan putri, aku ini lutung, dan aku bukan lutung sembarang lutung.”

“Apa bedanya kera dan lutung,” gumam Purbasari pelan.

“Tentu berbeda.”

“Lalu kenapa kau bisa ada disini?” tanya Purbasari penasaran.

“Seharusnya aku yang bertanya demikian padamu tuan putri.”

 “Kau mengenalku?”

“Tentu saja, aku melihat seorang pria berpakaian pengawal kerajaan mengantar anda kemari dan menyebut anda tuan putri, anda berminat menjadi teman saya?”

“Kau mengajakku berteman?” heran Purbasari untuk yang kesekian kalinya.
Monyet yang mengaku Lutung tersebut mengangguk cepat.

“Kau tidak jijik melihatku?”
Kini Lutung tersebut menggeleng lebih cepat lagi.

“Baiklah kita berteman tapi, aku tidak bisa menjabat tanganmu. Maaf,” tolaknya secara halus. Selain takut dengan Lutung jadi-jadian ini, ia juga masih belum bisa percaya sepenuhnya pada makhluk berekor oanjang tersebut.

 “Dengan kita berteman itu bahkan sudah lebih dari cukup tuan putri.”




***



Akhirnya Purbasari dan Lutung Kasarung berteman. Lutung sangat perhatian dengan Purbasari seperti membawakan bunga-bunga yang indah, berbagi sedikit buah-buahan segar miliknya, membantu Purbasari saat Putri kerajaan tersebut mengambil kayu bakar dan lain sebagainya. Sampai pada suatu malam bulan purnama, Lutung pergi ke tempat yang sepi lalu bersemedi.

Tepat malam itu pula Purbasari tengah mencarinya dan menemukan Lutung duduk bersila di atas batu yang cukup besar.Semaki menambah keterkejutannya, tempat bersemedi Lutung berubah menjadi telaga kecil.

“Keluarlah Tuan Putri, aku tahu kau ada di sana.”
Dan keluarlah Purbasari dari tempat persembunyian.

“Ceburkan dirimu disini Tuan Putri!” Tentu saja hal tersebut sontak membuat Purbasari tertegun bingung.
Meski agak ragu walau sudah tahu alasan dari Lutung akhirnya Purbasari menceburkan dirinya ke telaga tersebut. Lalu sesuatu terjadi pada kulit Purbasari, kulitnya menjadi bersih dan cantik kembali.

“Lutung, kau…”

“Jangan berfikir macam-macam Tuan Putri, ini semua berkat kebaikan serta kerendahan hatimu. Selamat untuk kembalinya diri anda yang sesungguhnya Tuan Putri.”
Malam itu, penuh keharuan dan bahagia yang teramat baik bagi Purbasari maupun Lutung.

Keesokkan harinya Purbasari telah berubah seperti sedia kala. Saat ia sedang menata bunga di depan gubuknya seorang pengawal kerajaan datang menghampiri dirinya.

“Permisi Tuan Putri.”

 “Pengawal? Apa yang membawamu kesini?”

 “Saya datang atas perintah dari Ayahanda Tuan Putri. Beliau sakit-sakitan, beliau sangat mencemaskan Tuan Putri, semenjak Tuan Putri diusir dari kerajaan, kondisi beliau tidak baik-baik saja. Keadaan kerajaanpun kacau balau.” Jawab Pengawal panjang lebar.

 “Lalu?”

 “Baginda berharap, Tuan Putri berkenan untuk kembali lagi ke istana.”

“Apakah mereka akan menerimaku, terutama kakakku. Sebenarnya aku sudah terbiasa disini. Aku juga banyak teman disini. Tetapi, aku sangat merindukan makanan kerajaan eh maksudku keluargaku di Istana. Baiklah, aku akan ikut pulang.”

“Dan maaf tuan putri, anda sudah sembuh? Kulit anda sudah seperti sedia kala anda cantik kembali.”

“Begitulah Pengawal.”
Sedangkan si Utung  tertunduk lesu mendengarkan kalimat yang menyatakan bahwa Purbasari akan ikut pulang ke istana. Dia merasa sedih.

 “Kenapa Tung? Kau kecewa denganku? Tenang, aku akan mengajakmu ke istana sebagai balas budi karena kau telah menyembuhkanku dan sudi menjadi temanku kala itu.”

 “Benarkah tuan putri?”

“Ya!”

“Terima kasih Tuan Putri, terima kasih.”
Akhirnya mereka bertiga kembali ke istana. Semua penghuni kerajaan bersorak sorai melihat kepulangan Putri Purbasari dari hutan belantara. Kembalinya putri bungsu Prabu Tapa Agung tersebut lantas diinformasikan oleh Menteri Kerajaan. Serta pujian kembali memenuhi aula Istana karena paras ayu nan menawan Putri mereka telah kembali. Sementara yang lain memuji, Purbararang tampak sangat tidak senang.

“Selamat atas kesembuhan penyakitmu dan kepulanganmu kembali ke istana Purbasari,” sambut Sekar, dengan pelukan hangatnya.

“Terima kasih Putri Sekar.”
Disatu sisi Purbararang menatap berang kedua sahabat yang tengah melepas rindu itu. Rakyat berteriak heboh agar Purbararang mengembalikan jabatan yang sesungguhnya pada Purbasari. Selama ini keadaan rakyat jauh dari damai dan sejahtera.

“Jangan senang dulu Purbasari, ingat bukankah untuk menjadi seorang pemimpin Kerajaan harus yang sudah memiliki keluarga. Atau setidaknya memiliki kekasih yang rupawan serta dari keluarga Bangsawan,” tutur Purbararang tak mau kalah.

“Aku Indrajaya suami Putri Purbararang. Dan aku adalah pria tertampan di kerajaan ini.”
Disana, Purbasari tampak gelisah dan tiba-tiba saja menarik lengan Utung dengan cekatan. Dengan perasaan bersungguh-sungguh dan senyum sumringah Purbasari bertutur.

“Dia adalah tunanganku.”
Lutung Kasarung melonjak-lonjak seakan-akan menenangkan Purbasari, Rakyat tercengang kaget nyaris prihatin, seluruh keluarga Istana pun sama halnya. Purbararng beserta suami tertawa kencang.

“Jadi monyet itu tunanganmu?”

“Tunanganmu seekor monyet? Hahaha….”

“Iya, memangnya kenapa?”

“Kasihan sekali adikku yang malang ini, kebanyakan main sama Kadal sih,” Purbararang mencemooh hebat.

“Seorang ratu haruslah memiliki pasangan yang bisa dibanggakan,” ujarnya seraya melirik pangeran Indrajaya.

 “Apa kata Negara tetangga jika suami Ratu buruk rupanya.”
Putri Purbasari memerah. Ia tersinggung mendengar sahabatnya dihina. Si Utung menenangkannya.

 “Hei Purbasari, kali ini kau kalah! Semua pasti setuju kalau pasanganku jauuuuh lebih tampan dibanding lutungmu itu hahaha…!”

Putri Purbararang tertawa geli hingga keluar air mata. Tak seorang pun yang ikut tertawa bersamanya. Rakyat tertunduk sedih membayangkan kejadian buruk yang akan menimpa putri Purbasari.

 “Tunggu!” ucap Utung lantang.
Sebuah suara menghentikan tawa putri Purbararang. Semua mencari asal suara tersebut. Utung berdiri tegak di kedua kakinya. Bulu-bulunya yang hitam dan lebat berkibar ditiup angin. Kelihatannya lucu, tapi tidak ada yang tertawa. Rakyat semakin sedih melihat penampilan si Utung. Dengan tenang Utung menatap putri Purbasari yang juga menatapnya dengan penasaran.

“Putri Purbasari, aku sudah berjanji untuk selalu menolongmu. Tapi kali ini aku tidak bisa menolongmu kecuali,” Utung menggantung kalimatnya.

 “Kecuali apa Tung?”

 “Kecuali putri menerimaku sebagai pasangan sejatimu!”

Rakyat bergemuruh tidak setuju. Putri Purbararang semakin terkikik geli. Putri Purbasari dengan tenang tersenyum dan menganggukan kepalanya.

 “Tidak ada yang lebih pantas menjadi pasanganku selain kamu Tung. Di saat semua memalingkan muka karena jijik melihatku, kau satu-satunya yang mau menemaniku.”

BLARR!

Petir menggelegar di siang bolong. Putri Purbasari terpekik histeris. Sontak semua memandang ngeri ke tempat Utung berdiri. Petir itu menyambar tepat ke badan Utung yang langsung dipenuhi asap. Putri masih menjerit-jerit dan menangis berusaha menembus asap tebal yang membungkus Utung, ia terbatuk-batuk. Keajaiban terjadi saat asap tebal perlahan-lahan menipis. Di tempat itu, berdirilah seorang pemuda yang ketampanan dan kegagahannya sulit dilukiskan kata-kata. Rakyat terpana. Putri Purbararang ternganga lebar. Putri Purbasari menatap bingung. Ia masih mencari-sisa-sisa tubuh si Utung. Mana mungkin lenyap begitu saja.
 
“Siapa yang kau cari putri?” tanya pemuda itu. Ia tersenyum lebar.

 “U..utung. Dimana dia?”

 “I’ts me, si Utung!” katanya menunjuk dirinya.

“Tidak perlu tipu-tipu, ini bukan April mop anak muda,” Purbasari semakin bingung.

“Hel tu del low, HELLO! JANGAN KARENA KAU BERBICARA MENGGUNAKAN BAHASA ASING AKU BISA MEMPERCAYAIMU. JANGAN MENGADA-ADA GANTENG,” teriak putri Purbararang antara kesal dan terpesona.

“Namaku Guru Minda. Saya adalah seorang dewa yang sedang dihukum dan diperintahkan untuk turun ke bumi. Kutukan itu akan hilang jika ada seorang gadis yang benar-benar tulus menerimaku sebagai pasangan sejatinya.”

Guru Minda berpaling kepada rakyat yang masih terpana memandangnya.

“Sekarang pilihlah siapakah yang lebih tampan dan gagah. Apakah pangeran Indrajaya atau aku?”
Tentu saja semua rakyat menyerukan nama Guru Minda serta ikut menyerukan nama Purbasari agar mejadi Ratu yang sebenarnya dan menginginkan Purbararang melepas tahtanya.

Beberapa rakyat tampak melempari Purbararang dengan kepalan tanah, membuatnya terjatuh dengat sangat tidak elit. Sementara Indrajaya berlari meninggalkan Kerajaan. Purbararang memohon ampun pada Purbasari dan meminta pembatalan hukuman yang tadi ia sendirilah yang mengumumkan.

 “Aku tidak akan menghukum kakakku sendiri. Kakak boleh tetap menjadi ratu asalkan kakak berjanji akan memimpin rakyat dengan sebaik-baiknya,”  tutur Purbasari.

“Kau benar-benar sempurna untuk menjadi seorang Ratu Purbasari, aku akan melepas tahta dan menangkatmu menjadi Ratu. Dan aku mohon, tolong maafkan aku Purbasari, maafkan aku.”

Malam itu di Istana sangat damai, Purbasari resmi diunjuk menjadi Ratu baru. Masih di malam yang sama, pernikahan Purbasari dan Guru Minda juga tengah berjalan.  Purbararang tidak dihukum namun akan tetap tidak dibebaskan untuk melakukan kegiatan. Kehidupan rakyat kembali normal dengan harga pasar yang selaras. Beginilah akhir dari sesuatu yang tampak menyedihkan di awal cerita.







***




Sorry for typos, nanti kalau ada waktu saya perbaiki😊

Cerita rakyat tersebut sudah diubah oleh penulis, untuk mengikuti tantangan pekan ke 4 ODOP 7.

Jumat, 20 September 2019

Pesan dari surat kabar (II)

"Bagaimana ujianmu?" Tanya Sean sembari meletakkan tas kerjanya di bantalan sofa.

Aku tersenyum simpul lantas menyusulnya duduk dengan beberapa camilan yang kubawa dari dapur. Televisi yang tadinya mati dinyalakan oleh Sean namun, fokusnya langsung tertuju padaku. Kedua kaki jenjangnya melipat di atas sofa dengan badan tepat menghadap ke arahku.

"Hei kerdil, aku bertanya padamu," tukasnya sembari bersedekap dada.

"Tinggiku 160cm kalau kau lupa," sanggahku tenang tanpa menatapnya sedikitpun.

"Dan aku 182cm kalau kau juga lupa," tukasnya tak mau kalah.

Netraku tertuju penuh pada layar televisi yang sedang menayangkan acara talk show selebriti. Masih tidak menghiraukannya tapi, dari ekor mataku terlihat Sean tetap pada posisi yang sama. Berdebat dengan kakakku yang seperti tiang listrik ini cukup menguras emosi. Jadi, jangan terpancing, ikuti saja permainannya.

Kutolehkan pandanganku, begitu mata kami bertemu cengiran khasnya yang aneh membuatku mual. Tadi pria ini belaga cool sekarang bertingkah seperti anak ayam kehilangan induknya. Aku ragu benarkah dia kakak kandungku.

"Menyebalkan! Kak Dean berada disana sepanjang ujian sedang berlangsung."

"Tentu saja, memang harus begitu," dia memutar tubuhnya kembali menghadap televisi.

Kakinya yang tadi melipat di atas sofa ia turunkan. Kemudian mengambil benda pipih dari dalam saku jas kerjanya dan berdiri sembari meletakkan alat komunikasi itu di telinganya.

"Ya, halo?" Sean memberi kode padaku untuk mengecilkan volume tv.

Ia beranjak ke pijakan anak tangga pertama. Cukup jauh tapi, aku masih bisa melihatnya. Seketika kekesalanku balik lagi saat mengingat obrolan kami barusan. Banyak yang ingin kupertanyakan secara random baik pada Dean ataupun Sean. Tapi, aku tidak cukup berani. Kedua kakakku itu sangat sensitif pada hal-hal yang berputar ria di kepalaku.

Minggu lalu, setelah kepulanganku dan Dean dari Rumah sakit. Mereka berdua tampak uring-uringan tidak jelas pada kejadian kecil yang ada sangkut pautnya denganku. Seperti aku yang tidak boleh lagi menggendong Lean, menentukan jam tidur malamku, menghantar-jemputku dari sekolah. Dan kekonyolan lainnya. Saat aku mencoba bertanya, mereka menatapku tajam seolah menyuruhku diam dan berakhir aku yang dibuat sakit hati karena omelan sarkas Dean waktu itu.

"Mereka itu kenapa sih."

"Mereka siapa maksudmu?" celetuk Sean sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.

"Kakak dan Kak Dean," jawabku singkat. Dapat kulihat air mukanya berubah 180°. Mendadak aku yang kelimpungan, dalam hati merapalkan seribu satu doa agar ia tak marah. Dan, doaku terjawab dengan cepat.

"Kami baik, tidak apa-apa. Hanya sedikit bangga pada wajahku yang super tampan dan mempesona ini," ucapnya percaya diri dengan lengkungan simetris di bibirnya.

"Sudah hampir jam sembilan malam adik kecil, mari kuhantar kau tidur." Langkah panjangnya membawaku beranjak dari nyamannya sofa. Mengambil alih stoples keripik di pangkuanku dan meletakkannya di meja. Mematikan televisi serta menyodorkan tabung kecil berisi vitamin yang rutin kukonsumsi.

Begitu air di dalam gelas kutandaskan beserta tablet kuning pucat tadi. Kembali Sean menggiringku menuju undakan tangga dan sesekali melirikku was-was.

Sesampainya di depan pintu kamarku, tanpa banyak bicara Sean hanya merapikan anak rambutku dan menyuruhku masuk. Tak lupa ejekannya yang berbunyi "Kerdilku semakin mengecil saja" lantas mendorong tubuhku masuk sepenuhnya ke dalam kamar tidur. Menatap kepergiannya dengan langkah kecil yang gusar. Tidak Dean ataupun Sean, keanehan kedua kakakku itu semakin hari semakin bertambah saja.



***