"Harus sampai kapan kita bermain kucing-kucingan seperti ini Dean! Aku tahu maksudmu untuk menjaga kesehatan psikisnya tapi, semua juga berhubungan dengan dirinya."
Hening, dua detik bahkan sampai lima belas menit kemudian. Pria bersnelli putih dengan name tag Dean di atas sakunya tampak pucat. Mematung dan hanya bola mata yang bergerak gusar. Sesekali menyugar rambutnya sembari mendesah frustasi.
Ruangan ber-ac itupun terasa sangat tak nyaman baginya. Suhu benda persegi panjang ia turunkan hingga delapan derajat Celcius namun, keringat tiada henti mengalir deras. Matanya membuka-tutup dengan kepalan tangan kanan dan kirinya.
Saat akan membuka mulut, ketukan dari luar ruangan Dean mengalihkan perhatian kedua pria dewasa disana. Karena pemilik ruangan duduk sehingga membuat pihak yang berdiri untuk membuka. Mempersilahkan wanita bersetelan sama dengan pria di hadapannya membungkuk hormat.
"Dokter Dean, Profesor Duke menginginkan anda untuk segera mengambil keputusan. Sore ini beliau akan terbang ke Selandia Baru dan siang ini sedang menyiapkan berkas untuk penelitian, lusa," jelas Perawat Katty panjang.
Sampai beberapa penjelesan berikutnya kedua pria dewasa itu tangkap tanpa berkedip. Dasi yang menggantung indah di leher Dean, ia tarik sarkas. Satin bermotif garis itu terasa mencekik lehernya, kemudian dicampakan sembarang dan melancarkan tinjunya di udara.
Sean, yang sedari tadi berdiri membelakangi sang kakak tak kalah kacaunya. Pintu yang telah tertutup rapat menjadi bahan pelampiasan pantofel hitamnya mengukir jejak.
"Beliau tidak menjamin nona Nara dapat bertahan lebih lama."
"Dean tolong, mana otakmu yang cerdas itu? GUNAKAN SEKARANG!"
"Berapa lama?"
"Maaf Dok, Prof. Duke akan segera mengirim berkasnya kepada anda."
Dan di sanalah kemurkaan Sean tak terbendung. Sebelum Dokter Flora benar-benang hengkang, anak kedua dari tiga bersaudara Dean-Sean-Nara itu sempat melepas bogem mentah di pipi sang dokter dan dilerai oleh dokter wanita tersebut.
Meski suasana sempat terasa menegangkan namun, segera melunak ketika pesan teks baru, muncul di ponsel keduanya dan tertera nama Nara sebagai pengirim. Disaat yang sama pesan teks baru kembali singgah di layar ponsel Dean dari Proffesor Duke. Dimana ketakutan Sean semakin menjadi dan menubruk Dean sembari bersimpuh dengan derai air mata tak terbendung.
Sama halnya dengan sang adik, Dean tak kuasa menahan tangisnya sembari memanggil sendu nama Nara.
"KATAKAN SESUATU DEAN!!" lagi, emosi Sean sebab beberapa menit lalu hanya kesunyian dengan deru nafas masing-masing yang terdengar.
Alih-alih menjawab, Dokter ahli bedah Kartodiotoraks itu justru melenggang pergi meninggalkan Sean di ruangannya. Tak ada sepatah kata yang terucap dari bibirnya bahkan melirik sekilas orang-orang yang dilaluinya pun enggan ia lakukan.
Begitu sampai pada kuda besinya, dilarikan kendaraan beroda empat itu dengan tergesa ke suatu tempat. Tak lupa memanggil pesan suara pada kontak Nara berulang kali. Hingga pada panggilan ke-3 Nara angkat. Dan membuat Dean semakin menggila mengendarai kuda besinya.
"Kak Dean, aku Jella. Nara tidak sadarkan diri saat pelajaran olahraga."
***
Sorry for typos
Tidak ada komentar:
Posting Komentar