"Bagaimana ujianmu?" Tanya Sean sembari meletakkan tas kerjanya di bantalan sofa.
Aku tersenyum simpul lantas menyusulnya duduk dengan beberapa camilan yang kubawa dari dapur. Televisi yang tadinya mati dinyalakan oleh Sean namun, fokusnya langsung tertuju padaku. Kedua kaki jenjangnya melipat di atas sofa dengan badan tepat menghadap ke arahku.
"Hei kerdil, aku bertanya padamu," tukasnya sembari bersedekap dada.
"Tinggiku 160cm kalau kau lupa," sanggahku tenang tanpa menatapnya sedikitpun.
"Dan aku 182cm kalau kau juga lupa," tukasnya tak mau kalah.
Netraku tertuju penuh pada layar televisi yang sedang menayangkan acara talk show selebriti. Masih tidak menghiraukannya tapi, dari ekor mataku terlihat Sean tetap pada posisi yang sama. Berdebat dengan kakakku yang seperti tiang listrik ini cukup menguras emosi. Jadi, jangan terpancing, ikuti saja permainannya.
Kutolehkan pandanganku, begitu mata kami bertemu cengiran khasnya yang aneh membuatku mual. Tadi pria ini belaga cool sekarang bertingkah seperti anak ayam kehilangan induknya. Aku ragu benarkah dia kakak kandungku.
"Menyebalkan! Kak Dean berada disana sepanjang ujian sedang berlangsung."
"Tentu saja, memang harus begitu," dia memutar tubuhnya kembali menghadap televisi.
Kakinya yang tadi melipat di atas sofa ia turunkan. Kemudian mengambil benda pipih dari dalam saku jas kerjanya dan berdiri sembari meletakkan alat komunikasi itu di telinganya.
"Ya, halo?" Sean memberi kode padaku untuk mengecilkan volume tv.
Ia beranjak ke pijakan anak tangga pertama. Cukup jauh tapi, aku masih bisa melihatnya. Seketika kekesalanku balik lagi saat mengingat obrolan kami barusan. Banyak yang ingin kupertanyakan secara random baik pada Dean ataupun Sean. Tapi, aku tidak cukup berani. Kedua kakakku itu sangat sensitif pada hal-hal yang berputar ria di kepalaku.
Minggu lalu, setelah kepulanganku dan Dean dari Rumah sakit. Mereka berdua tampak uring-uringan tidak jelas pada kejadian kecil yang ada sangkut pautnya denganku. Seperti aku yang tidak boleh lagi menggendong Lean, menentukan jam tidur malamku, menghantar-jemputku dari sekolah. Dan kekonyolan lainnya. Saat aku mencoba bertanya, mereka menatapku tajam seolah menyuruhku diam dan berakhir aku yang dibuat sakit hati karena omelan sarkas Dean waktu itu.
"Mereka itu kenapa sih."
"Mereka siapa maksudmu?" celetuk Sean sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Kakak dan Kak Dean," jawabku singkat. Dapat kulihat air mukanya berubah 180°. Mendadak aku yang kelimpungan, dalam hati merapalkan seribu satu doa agar ia tak marah. Dan, doaku terjawab dengan cepat.
"Kami baik, tidak apa-apa. Hanya sedikit bangga pada wajahku yang super tampan dan mempesona ini," ucapnya percaya diri dengan lengkungan simetris di bibirnya.
"Sudah hampir jam sembilan malam adik kecil, mari kuhantar kau tidur." Langkah panjangnya membawaku beranjak dari nyamannya sofa. Mengambil alih stoples keripik di pangkuanku dan meletakkannya di meja. Mematikan televisi serta menyodorkan tabung kecil berisi vitamin yang rutin kukonsumsi.
Begitu air di dalam gelas kutandaskan beserta tablet kuning pucat tadi. Kembali Sean menggiringku menuju undakan tangga dan sesekali melirikku was-was.
Sesampainya di depan pintu kamarku, tanpa banyak bicara Sean hanya merapikan anak rambutku dan menyuruhku masuk. Tak lupa ejekannya yang berbunyi "Kerdilku semakin mengecil saja" lantas mendorong tubuhku masuk sepenuhnya ke dalam kamar tidur. Menatap kepergiannya dengan langkah kecil yang gusar. Tidak Dean ataupun Sean, keanehan kedua kakakku itu semakin hari semakin bertambah saja.
Aku tersenyum simpul lantas menyusulnya duduk dengan beberapa camilan yang kubawa dari dapur. Televisi yang tadinya mati dinyalakan oleh Sean namun, fokusnya langsung tertuju padaku. Kedua kaki jenjangnya melipat di atas sofa dengan badan tepat menghadap ke arahku.
"Hei kerdil, aku bertanya padamu," tukasnya sembari bersedekap dada.
"Tinggiku 160cm kalau kau lupa," sanggahku tenang tanpa menatapnya sedikitpun.
"Dan aku 182cm kalau kau juga lupa," tukasnya tak mau kalah.
Netraku tertuju penuh pada layar televisi yang sedang menayangkan acara talk show selebriti. Masih tidak menghiraukannya tapi, dari ekor mataku terlihat Sean tetap pada posisi yang sama. Berdebat dengan kakakku yang seperti tiang listrik ini cukup menguras emosi. Jadi, jangan terpancing, ikuti saja permainannya.
Kutolehkan pandanganku, begitu mata kami bertemu cengiran khasnya yang aneh membuatku mual. Tadi pria ini belaga cool sekarang bertingkah seperti anak ayam kehilangan induknya. Aku ragu benarkah dia kakak kandungku.
"Menyebalkan! Kak Dean berada disana sepanjang ujian sedang berlangsung."
"Tentu saja, memang harus begitu," dia memutar tubuhnya kembali menghadap televisi.
Kakinya yang tadi melipat di atas sofa ia turunkan. Kemudian mengambil benda pipih dari dalam saku jas kerjanya dan berdiri sembari meletakkan alat komunikasi itu di telinganya.
"Ya, halo?" Sean memberi kode padaku untuk mengecilkan volume tv.
Ia beranjak ke pijakan anak tangga pertama. Cukup jauh tapi, aku masih bisa melihatnya. Seketika kekesalanku balik lagi saat mengingat obrolan kami barusan. Banyak yang ingin kupertanyakan secara random baik pada Dean ataupun Sean. Tapi, aku tidak cukup berani. Kedua kakakku itu sangat sensitif pada hal-hal yang berputar ria di kepalaku.
Minggu lalu, setelah kepulanganku dan Dean dari Rumah sakit. Mereka berdua tampak uring-uringan tidak jelas pada kejadian kecil yang ada sangkut pautnya denganku. Seperti aku yang tidak boleh lagi menggendong Lean, menentukan jam tidur malamku, menghantar-jemputku dari sekolah. Dan kekonyolan lainnya. Saat aku mencoba bertanya, mereka menatapku tajam seolah menyuruhku diam dan berakhir aku yang dibuat sakit hati karena omelan sarkas Dean waktu itu.
"Mereka itu kenapa sih."
"Mereka siapa maksudmu?" celetuk Sean sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Kakak dan Kak Dean," jawabku singkat. Dapat kulihat air mukanya berubah 180°. Mendadak aku yang kelimpungan, dalam hati merapalkan seribu satu doa agar ia tak marah. Dan, doaku terjawab dengan cepat.
"Kami baik, tidak apa-apa. Hanya sedikit bangga pada wajahku yang super tampan dan mempesona ini," ucapnya percaya diri dengan lengkungan simetris di bibirnya.
"Sudah hampir jam sembilan malam adik kecil, mari kuhantar kau tidur." Langkah panjangnya membawaku beranjak dari nyamannya sofa. Mengambil alih stoples keripik di pangkuanku dan meletakkannya di meja. Mematikan televisi serta menyodorkan tabung kecil berisi vitamin yang rutin kukonsumsi.
Begitu air di dalam gelas kutandaskan beserta tablet kuning pucat tadi. Kembali Sean menggiringku menuju undakan tangga dan sesekali melirikku was-was.
Sesampainya di depan pintu kamarku, tanpa banyak bicara Sean hanya merapikan anak rambutku dan menyuruhku masuk. Tak lupa ejekannya yang berbunyi "Kerdilku semakin mengecil saja" lantas mendorong tubuhku masuk sepenuhnya ke dalam kamar tidur. Menatap kepergiannya dengan langkah kecil yang gusar. Tidak Dean ataupun Sean, keanehan kedua kakakku itu semakin hari semakin bertambah saja.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar