Sabtu, 02 November 2019

Pesan dari Surat Kabar (chapter terakhir)


Sepulangnya dari restaurant, Sean dikejutkan dengan beberapa orang-orang yang sudah tak asing baginya dan cukup meramaikan isi rumah mereka. Di pojok sofa ruang keluarga ada Dean bersama Proffesor Duke yang berdiri saling berhadapan, James, dan teman kantornya yang lain, beberapa Dokter dan Perawat kenalan Dean. Chef Steve sampai Jella sekalipun.

"Lembur Sean?"

"Ibu?"

"Ke kamarmu sebentar nak, ganti terlebih dahulu pakaian kerjamu. Menyapa bisa nanti."

"Ayah, tapi..."

"Tidak terjadi apapun sebelum tanpamu dan tak akan terjadi apapun juga sebelum adanya dirimu," potong Flora, ibu beranak tiga Dean-Sean-Nara.

Dan enyalah anak kedua dari tiga bersaudara dalam peradaban manusia-manusia bertampang tegang barusan. Pemandangan tadi menggelitik jiwa terdalamnya bahwa hal yang dikhawatirkannya selama ini akan terjadi.

Kedua orang tuanya yang beberapa tahun belakangan ini bersemayam di benua Eropa itu pun turut hadir di sana. Ayah dan ibunya yang memang sudah bercerai sejak dulu dan sangat jarang dapat dikumpulkan dalam satu event, kini tampak duduk berdampingan satu sama lain.

Melupakan kisah miris keluarga broken home-nya. Ada sesuatu yang lebih penting dari itu, tak sampai lima belas menit Sean mandi dan kembali turun dengan pakaian rumahan yang lebih santai.

Semua sudah berdiam diri dengan tenang di atas tempat duduk maroon berbahan lembut di sana. Lirikan Sean jatuh pada mata Dean yang sembab, secara naluriah netranya berputar random pada mata-mata lainnya di ruangan tersebut.

"Kalian semua habis menangis?" Lebih terasa seperti peryataan dibanding pertanyaan.

Tidak puas dengan reaksi semua orang yang masih setia enggan buka suara maka, Sean lanjutkan "Mengenai Nara?"

Bravo, Jella berseru lirih teramat lirih.

"Ikhlaskan Nara Kak."

"Delusimu dan Dean adalah serangan mental mendadak yang bekerja pesat sehingga mempengaruhi pola pikir kalian," ucap Proffesor Duke lugas.

Flora meringis sesak, tangan kirinya merangkum jemari Sean yang tepat duduk di sebelahnya. Mata bengkak wanita itu kembali meneteskan isinya. Tak menyangka akan seperti ini kepahitan dalam keluarganya. Seandainha ia bisa memutar-balikkan waktu. Seandainya saja.

"Kecelakan pesawat itu sungguh tak terduga Sean. Tidak hanya Nara, seluruh penumpang dinyatakan tak ada yang selamat," lanjut Proffesor Duke.

"Bukan karena Pneumonia maupun Anxiety Disordernya. Bahkan konsultasi rutin yang kau dan Dean lakukan mengenai Nara yang mengidap CIPA semenjak lahir, itu sia-sia. Nara sudah berpulang Sean. Jenazahnya ditemukan tim SAR dalam keadaan hangus terbakar. Dan hanya cincin serta kalung ini yang menjadi barang bukti bahwa jenazah itu benar Nara." Jelas Proffesor Duke panjang sembari menyerahkan bungkusan perhiasan Nara pada Sean.

Yang diterima pria itu dengan satu tetes kesakitan luar biasa. Digenggamnya erat plastik bening berisi kalung dan cincin Nara. Benar, kalung berinisial DNS itu hadiah ulang tahun Nara ke-15 darinya. Ia yang membelikannya sendiri di tengah hujan lebat demi pulang membawa kado untuk sang adik.

"Peristiwa pingsannya Nara bahkan sudah berlalu beberapa bulan lalu Kak," sambung Jella bersama isak tangisnya.

"Surat kabar yang saya berikan pada anda minggu lalu adalah berita dimana jatuhnya pesawat yang ditumpangi Nara Dok," Dokter Anne yang bersuara sembari menuju pandang pada Dean.

"Tidak pernah ada Nara di kantin siang itu Dean," James ikut berpartisipasi.

"Nara hanya imajinasi kalian yang merasa terpukul karena kepergiannya. Membuat kalian berhalusinasi dan berkeyakinan bahwa Nara masih ada, tidak pernah pergi," lagi Proffesor Duke meluruskan kebuntuan.

"Dan tidak ada makan malam bersama Nara hari ini Sean. Menu kesukaan Nara yang kau pesan bahkan tak tersentuh barang sedikit, tawamu menjadi tontonan gratis para pengunjung restaurant yang mengira kau itu kurang waras," imbuh Steve sehalus mungkin. Ia takut semakin melukai perasaan sahabat karibnya.

Langit semakin menghitam, mendung yang tampak menghiasi langit sore tadi, benar-benar jatuh mengguyur bumi sampai terlewat deras. Dinginnya malam di panasnya gejolak amarah dan luka serta duka dalam satu waktu.

Sean bergetar keseluruhan secara batin. Namun, angkuh berlakon lagaknya kuat. Di sebrangnya ia lihat Dean menangis pilu tanpa suara.

"Seharusnya ibu tidak meminta Nara menemuiku. Bagaimana bisa aku menyuruhnya bepergian sendiri tanpa kedua kakaknya. Benar-benar bodoh!!" jeritan sarkas terakhir Flora yang membawanya limbung tiba-tiba. Kesadarannya pun menipis. Ia pingsan dalam pangkuan putra keduanya.

Proffesor Duke dan sang mantan suami tergesa membantu Flora di pindahkan ke kamarnya. Sedang di ruang keluarga Jella satu-satunya yang bersuara keras dengan tangisnya. Gadis sebaya Nara dan juga sahabat baik mendiang.

Sean lumpuh karena waktu terasa menohok jantungnya hingga lebam tak terobati. Adik kandung tercintanya, Princess cantik terhebat di keluarganya telah meninggalkan dunia. Pergi tuk selama-lamanya, meninggalkannya, Dean, orang tuanya, kehidupannya.

Selama delapan belas tahun hidup gadis sedarah dengannya itu, tak pernah terselipt satupun cerita jelek mengenai Nara. Ia sakit, komplikasi sejak kecil. Pengidap CIPA yang sampai sekarang masih belum tahu cara menyembuhkannya. Namun, tak pernah sekalipun baik Sean maupun Dean bahkan penghuni rumah lainnya mendengar Nara mengeluh sakit, lelah, takut, dan segala macamnya. Semua terlukis apik dalam lengkungan indah senyumnya.

Nara, Fabioletta Anara. Putri semata wayang keluarga
Harlen. Dinyatakan tutup usia pada tahun 2019 dalam tragedi jatuhnya pesawat Internasional menuju Hambrug, Jerman yang berkapasitas empat ratus penumpang.








Selesai~


Sorry for typos
Kalau ada waktu, beberapa kata atau kalimat yang kurang tepat akan saya perbaiki ya hehe..














Notes:
• Pneumonia : Infeksi yang menimbulkan peradangan pada kantung udara di salah satu atau kedua paru-paru, yang dapat berisi cairan.
• Anxiety Disorder : Gangguan kecemasan
• CIPA (Congenital Insensitivity to Pain with Anhidrosis) : Penyakit gangguan dan kemunduran sistem saraf yang membuat penderitanya kehilangan rasa atau sensasi dari luar. Seperti tidak dapat merasakan sakit bahkan ketika tubuhnya terluka atau dicelupkan pada air yang baru mendidih sekalipun.

Jumat, 01 November 2019

Pesan dari Surat Kabar (menuju ending IV)

"Berhenti menggerutu Nara, kau sendiri yang meminta ikut bersamaku." Tak membuat gadis bergaun bunga tersebut meredakan omelannya.

"Setengah jam lagi, sampai pekerjaanku selesai," tutup Sean kembali fokus pada berkas-berkas perusahaannya.

Dilihat dari sisi manapun, jelas tercetak ketidaksukaan Nara pada situasi sekarang. Mulut komat-kamit mengumpat sang Kakak sedang netra, tak henti menatap sinis Sean. Untung kakak.

Setengah jam yang Sean janjikan nyatanya molor hingga berjam-jam berikutnya. Tepat pukul lima sore barulah pria dewasa tersebut menutup laptop dan seperangkat berkas kerja lainnya. Fokusnya seketika jatuh pada Nara yang terduduk bersandar pada sofa, kakinya ia ayunkan keras sampai terdengar bunyi debuman.

Sean mendekat dan membawa Nara dalam pelukan, tak lupa melantunkan maaf sebab pekerjaan yang sungguh di luar perkiraan.

"Makan malam di tempat favoritmu sepertinya ide bagus." Sean mencoba bernegosiasi. Meski kesalahan ada pada Nara, gadis itu yang memaksa ikut. Namun, pria memang tempatnya kesalahan, seorang kakak ditakdirkan harus selalu mengalah, dan perempuan tidak pernah salah. Maka lengkap sudah cobaan hidupnya.

Perubahan ekspresi Nara yang semula cuek-cuek saja mulai mengembangkan senyum kecil. Menoleh pada Sean dan menyetujui penawaran menggiurkan tersebut.

"Untung sayang," gumam Sean sepelan mungkin.

Di depannya Nara sudah berjalan dengan semangat, sesekali tangannya melambai pada staff kantor yang berada di kanan-kiri ataupun sekedar melewatinya.

Sean tak mampu menyembunyikan tawanya. Tingkah kekanakan Naralah yang menyebabkan pria sedingin Sean menguarkan tawa di hadapan umum. Sontak saja para pegawai lainnya dibuat terpesona. Yang selama ini teramat segan untuk tersenyum padanya sekarang mereka bahkan mereka ikut tertawa.

"Manager kita sedang dalam suasana hati yang bagus."

"Tuhan menciptakan Pak Sean sembari tersenyum."

"Inilah yang disebut ketampanan yang hakiki."

Begitu kurang lebih bisik-bisik pegawai kantornya. Sepanjang Sean melintas, nihil prasangka buruk yang mereka bicarakan. Sebagian besar kaum hawa yang mengaku jatuh cinta sejak pandang pertama padanya semakin tergila-gila. Dan jajaran para kaum sebangsa Sean yang tersentil jiwa ketampanan mereka tampak minder.


***


"Kenapa lama sekali mengemudinya sih Kak, aku sudah tidak sabar," semprot Nara di tengah perjalanan.

"Lihat ke depan sayang." Kuda besi yang mereka naiki terjebak macet karena lampu merah. Antrian cukup panjang, untuk melaju saja cukup tiga meter paling besar. Belum lagi pengendara sepeda motor yang menyalip sana-sini.

"Ckk, seharusnya kita terbang saja." Tak Sean hiraukan. Biarlah adik cantiknya itu menggerutu sampai puas. Diam-diam bibirnya terbirit senyum simpul, dan usapan pada pualam Nara yang memerah sebab menahan emosi.

Satu jam setelah menghadapi kemacetan yang menyebalkan, Sean-Nara sampai pada restaurant yang mereka tuju. Langit mulai menggelap bahkan tampak lebih gelap dari biasanya. Melirik ke tempat duduk sebelah, Sean mendapati Nara tertidur sembari memeluk seat belt.

"Hoam, Kak kenapa tidak membangunkanku. Kita sudah sampaikan? Berapa lama kita berdiam diri di sini. Oh astaga, di luar sedang hujan," heboh Nara dengan pertanyaan beruntunnya.

Sean terkekeh gemas dibuatnya "Harus kumulai dari mana untuk menjawab hmm?" tanyanya dengan tangan mengelap noda ruam di pelipis Nara.

"Tidak perlu Kakak jawab, kita langsung masuk saja. Aku rindu masakan Chef Steve." Lagi-lagi Sean dibuat tertawa gemas.


***


"Sean? Sudah lama tidak berkunjung. Ingin memesan hidangan seperti biasa?" ramah pramusaji yang sudah sangat kenal dengan Sean dan keluarga.

Ia tanggapi dengan gelengan kecil tak luput dari senyum manisnya. "Tolong menu yang biasa Nara suka," ucap Sean jelas.

Lengser dari pijakan awal untuk menyusun pesanan pelanggan setia tempatnya bekerja. Steve pamit setelah memberi tepukan beberapa kali pada bahu kanan Sean.

"Banyak mata yang memandang ke arah kita Kak, kenapa?"

"Karena Chefnya langsung yang meladeni kita. Mereka pasti iri, lagi pula Kakak dengar Steve cukup populer di sini. Penggemarnya banyak," jelas Sean sembari mencuri pandang ke Steve yang sedang memasak di sana.

"Bukan karena aku yang terlalu cantik?"

"Benar, karena kau terlalu aneh," sarkas Sean yang membuat Nara mengerucutkan bibir tak suka.

Selagi menunggu pesanan datang, Sean-Nara tak absen melucu demi menghalau kesepian. Terlebih Sean, satu hari ini adiknya ia anggurkan membosankan.

Candaan kakak beradik itu mengalir dengan sendirinya membuat tawa di antara keduanya enggan mereda. Hingga beberapa pasang mata menatap ke arah Sean dengan bingung. Sean tampak berdeham pelan meyadari tatapan beberapa pelanggan yang mungkin merasa terganggu. Beda dengan Nara yang masa bodoh keadaan sekitar.

"Akhir yang indah."










***







Sorry for typos