Jumat, 20 September 2019

Pesan dari surat kabar (II)

"Bagaimana ujianmu?" Tanya Sean sembari meletakkan tas kerjanya di bantalan sofa.

Aku tersenyum simpul lantas menyusulnya duduk dengan beberapa camilan yang kubawa dari dapur. Televisi yang tadinya mati dinyalakan oleh Sean namun, fokusnya langsung tertuju padaku. Kedua kaki jenjangnya melipat di atas sofa dengan badan tepat menghadap ke arahku.

"Hei kerdil, aku bertanya padamu," tukasnya sembari bersedekap dada.

"Tinggiku 160cm kalau kau lupa," sanggahku tenang tanpa menatapnya sedikitpun.

"Dan aku 182cm kalau kau juga lupa," tukasnya tak mau kalah.

Netraku tertuju penuh pada layar televisi yang sedang menayangkan acara talk show selebriti. Masih tidak menghiraukannya tapi, dari ekor mataku terlihat Sean tetap pada posisi yang sama. Berdebat dengan kakakku yang seperti tiang listrik ini cukup menguras emosi. Jadi, jangan terpancing, ikuti saja permainannya.

Kutolehkan pandanganku, begitu mata kami bertemu cengiran khasnya yang aneh membuatku mual. Tadi pria ini belaga cool sekarang bertingkah seperti anak ayam kehilangan induknya. Aku ragu benarkah dia kakak kandungku.

"Menyebalkan! Kak Dean berada disana sepanjang ujian sedang berlangsung."

"Tentu saja, memang harus begitu," dia memutar tubuhnya kembali menghadap televisi.

Kakinya yang tadi melipat di atas sofa ia turunkan. Kemudian mengambil benda pipih dari dalam saku jas kerjanya dan berdiri sembari meletakkan alat komunikasi itu di telinganya.

"Ya, halo?" Sean memberi kode padaku untuk mengecilkan volume tv.

Ia beranjak ke pijakan anak tangga pertama. Cukup jauh tapi, aku masih bisa melihatnya. Seketika kekesalanku balik lagi saat mengingat obrolan kami barusan. Banyak yang ingin kupertanyakan secara random baik pada Dean ataupun Sean. Tapi, aku tidak cukup berani. Kedua kakakku itu sangat sensitif pada hal-hal yang berputar ria di kepalaku.

Minggu lalu, setelah kepulanganku dan Dean dari Rumah sakit. Mereka berdua tampak uring-uringan tidak jelas pada kejadian kecil yang ada sangkut pautnya denganku. Seperti aku yang tidak boleh lagi menggendong Lean, menentukan jam tidur malamku, menghantar-jemputku dari sekolah. Dan kekonyolan lainnya. Saat aku mencoba bertanya, mereka menatapku tajam seolah menyuruhku diam dan berakhir aku yang dibuat sakit hati karena omelan sarkas Dean waktu itu.

"Mereka itu kenapa sih."

"Mereka siapa maksudmu?" celetuk Sean sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.

"Kakak dan Kak Dean," jawabku singkat. Dapat kulihat air mukanya berubah 180°. Mendadak aku yang kelimpungan, dalam hati merapalkan seribu satu doa agar ia tak marah. Dan, doaku terjawab dengan cepat.

"Kami baik, tidak apa-apa. Hanya sedikit bangga pada wajahku yang super tampan dan mempesona ini," ucapnya percaya diri dengan lengkungan simetris di bibirnya.

"Sudah hampir jam sembilan malam adik kecil, mari kuhantar kau tidur." Langkah panjangnya membawaku beranjak dari nyamannya sofa. Mengambil alih stoples keripik di pangkuanku dan meletakkannya di meja. Mematikan televisi serta menyodorkan tabung kecil berisi vitamin yang rutin kukonsumsi.

Begitu air di dalam gelas kutandaskan beserta tablet kuning pucat tadi. Kembali Sean menggiringku menuju undakan tangga dan sesekali melirikku was-was.

Sesampainya di depan pintu kamarku, tanpa banyak bicara Sean hanya merapikan anak rambutku dan menyuruhku masuk. Tak lupa ejekannya yang berbunyi "Kerdilku semakin mengecil saja" lantas mendorong tubuhku masuk sepenuhnya ke dalam kamar tidur. Menatap kepergiannya dengan langkah kecil yang gusar. Tidak Dean ataupun Sean, keanehan kedua kakakku itu semakin hari semakin bertambah saja.



***

Senin, 16 September 2019

Pesan dari Surat Kabar


Pesan dari Surat Kabar

Pagi dalam keterhenyakan rintik hujan, malas sekali rasanya untuk sekedar beranjak. Mandi pun seperti halnya air langit mengguyur bumi, seakan bidang kecokelatan itu diriku. Ketukan kecil dari luar membuatku beranjak malas-malasan. Sembari menuju pintu, kulirik weker panda di atas nakas menunjukkan pukul delapan pagi.

"Lanjutkan nanti hibernasimu, sarapan sudah selesai."

Lenyap katanya seiringan dengan siluetnya yang menjauh. Kaos oblong putih seperti gorden itu membuatku muak. Sean, saudara kandungku yang tingginya bukan main dan paling menyebalkan. Usia kami terpaut 7 tahun, diusianya yang hampir menginjak kepala tiga, pria itu tak kunjung memiliki kekasih.

Tuturnya yang singkat, tidak suka berbasa-basi, me is myself adalah semboyannya. Pria tua itu terlalu kolot dalam masalah percintaan. Biarkan saja dia mengurus hidupnya.

"Kau ini masih saja keras kepala," begitu aku sampai di ruang makan, omelan kakak tertuaku mengalun seperti biasanya.

Dean Samudra, seorang dokter ahli bedah Kardiotoraks. Meski sering menasihati Sean seputar asmara, nyatanya mereka berdua sama saja. Di depanku kakak keduaku itu santai melahap toast dan kawan-kawan tanpa menghiraukan Dean yang masih melantunkan lagu lamanya.

"Nara, kau jangan seperti kami. Tidak baik seorang perempuan terlalu tertutup, jika ada apa-apa ceritalah padaku atau Sean. Mengerti?"

Kalau sudah begini, mau menghindarpun percuma saja. Maka yang bisa kulakukan hanya mengangguk sembari menyambar segelas air yang sudah tersedia. Lirikan dari arah depan membuatku menatapnya balik. Dan selanjutnya tatap-tatapan tajam terjadi antaraku dengan Sean.

"Apa?" sarkasku merasa jengah

"Sudah, jangan mulai. Sean kau bukan anak kecil lagi, Nara cepat selesaikan sarapanmu. Setelah itu ikut kakak ke Rumah sakit,"

Akhir pekan seperti ini, biasa kami habiskan dengan bersantai di rumah. Berhubung kedua kakakku itu makhluk langkah penggila keheningan. Maka, tidak ada istilah jalan-jalan kalau tidak aku yang lebih dulu bersuara atau memaksa lebih tepatnya.
Tapi, karena hari ini jadwalku medical check-up. Setidaknya aku dan Dean harus keluar.

Sarapan berlangsung tenang setelah drama keributan beberapa saat lalu. Sampai aku dan Dean pamit untuk ke Rumah sakit, Sean mengerjakan sketsa proyek kerjanya di rumah bersama Lean, kucing hitam peliharaan kami.

"Ayah akan pulang dalam beberapa hari ke depan tapi, kakak tidak jamin menetap terlalu lama."

"Ibu?" sahutku menatap ke arah Dean yang fokus dengan kemudinya.

Pria itu menggeleng, sebelah tangannya menepuk pundakku pelan. Fokusnya masih pada jalanan di depan sana tapi, lisannya mengudara- "Ibu berjanji, pada wisuda kelulusanmu nanti beliau akan pulang." bersama kernyitan ganjil di dahinya.

"Aku rindu sekali dengan Ibu Kak," ungkapku menatap keluar jendela. Setidaknya pemandangan pagi ini tidak membuatku sedih.

"Kakak dan Sean pun sama, begitu juga dengan Ayah."

Selanjutnya tak terjadi obrolan lagi diantara kami sampai, kuda besi Dean berhenti di pelataran Rumah Sakit Greenword.

Sesuai namanya, Rumah Sakit ini tampak asri dengan banyaknya tumbuhan hidup disetiap sudut. Beberapa Perawat dan Dokter yang lalu lalang tampak menyapa Dean saat kami menuju ruangannya. Ketika seorang Dokter perempuan muda beraura kalem sedikit berbincang padanya. Tak ayal pula langsung kujadikan bahan candaan. Membuatnya merona sebal, lucu sekali.

"Serius Kakak tidak suka dengannya?" godaku, lantas pria itu mendengus sekenanya.

Sudah kubilang, kedua kakakku ini aneh bukan. Aku takut mereka berdua adalah gay, astaga.

"Selamat pagi Dokter Dean, ketua umum bedah jantung meminta saya memberikan ini pada anda," seorang perempuan dengan jas Dokternya menghampiri kami yang baru saja tiba di depan pintu ruangan Dean. Dan menyerahkan potongan surat kabar pada kakakku. Yang diterimanya sembari menatapku lekat. Sama lekatnya dengan pandangan Dokter perempuan yang memberinya potongan surat kabar tersebut.

Benakku bertanya-tanya "Ada apa dengan mereka?"





***






Selamat membaca...