"Berhenti menggerutu Nara, kau sendiri yang meminta ikut bersamaku." Tak membuat gadis bergaun bunga tersebut meredakan omelannya.
"Setengah jam lagi, sampai pekerjaanku selesai," tutup Sean kembali fokus pada berkas-berkas perusahaannya.
Dilihat dari sisi manapun, jelas tercetak ketidaksukaan Nara pada situasi sekarang. Mulut komat-kamit mengumpat sang Kakak sedang netra, tak henti menatap sinis Sean. Untung kakak.
Setengah jam yang Sean janjikan nyatanya molor hingga berjam-jam berikutnya. Tepat pukul lima sore barulah pria dewasa tersebut menutup laptop dan seperangkat berkas kerja lainnya. Fokusnya seketika jatuh pada Nara yang terduduk bersandar pada sofa, kakinya ia ayunkan keras sampai terdengar bunyi debuman.
Sean mendekat dan membawa Nara dalam pelukan, tak lupa melantunkan maaf sebab pekerjaan yang sungguh di luar perkiraan.
"Makan malam di tempat favoritmu sepertinya ide bagus." Sean mencoba bernegosiasi. Meski kesalahan ada pada Nara, gadis itu yang memaksa ikut. Namun, pria memang tempatnya kesalahan, seorang kakak ditakdirkan harus selalu mengalah, dan perempuan tidak pernah salah. Maka lengkap sudah cobaan hidupnya.
Perubahan ekspresi Nara yang semula cuek-cuek saja mulai mengembangkan senyum kecil. Menoleh pada Sean dan menyetujui penawaran menggiurkan tersebut.
"Untung sayang," gumam Sean sepelan mungkin.
Di depannya Nara sudah berjalan dengan semangat, sesekali tangannya melambai pada staff kantor yang berada di kanan-kiri ataupun sekedar melewatinya.
Sean tak mampu menyembunyikan tawanya. Tingkah kekanakan Naralah yang menyebabkan pria sedingin Sean menguarkan tawa di hadapan umum. Sontak saja para pegawai lainnya dibuat terpesona. Yang selama ini teramat segan untuk tersenyum padanya sekarang mereka bahkan mereka ikut tertawa.
"Manager kita sedang dalam suasana hati yang bagus."
"Tuhan menciptakan Pak Sean sembari tersenyum."
"Inilah yang disebut ketampanan yang hakiki."
Begitu kurang lebih bisik-bisik pegawai kantornya. Sepanjang Sean melintas, nihil prasangka buruk yang mereka bicarakan. Sebagian besar kaum hawa yang mengaku jatuh cinta sejak pandang pertama padanya semakin tergila-gila. Dan jajaran para kaum sebangsa Sean yang tersentil jiwa ketampanan mereka tampak minder.
"Kenapa lama sekali mengemudinya sih Kak, aku sudah tidak sabar," semprot Nara di tengah perjalanan.
"Lihat ke depan sayang." Kuda besi yang mereka naiki terjebak macet karena lampu merah. Antrian cukup panjang, untuk melaju saja cukup tiga meter paling besar. Belum lagi pengendara sepeda motor yang menyalip sana-sini.
"Ckk, seharusnya kita terbang saja." Tak Sean hiraukan. Biarlah adik cantiknya itu menggerutu sampai puas. Diam-diam bibirnya terbirit senyum simpul, dan usapan pada pualam Nara yang memerah sebab menahan emosi.
Satu jam setelah menghadapi kemacetan yang menyebalkan, Sean-Nara sampai pada restaurant yang mereka tuju. Langit mulai menggelap bahkan tampak lebih gelap dari biasanya. Melirik ke tempat duduk sebelah, Sean mendapati Nara tertidur sembari memeluk seat belt.
"Hoam, Kak kenapa tidak membangunkanku. Kita sudah sampaikan? Berapa lama kita berdiam diri di sini. Oh astaga, di luar sedang hujan," heboh Nara dengan pertanyaan beruntunnya.
Sean terkekeh gemas dibuatnya "Harus kumulai dari mana untuk menjawab hmm?" tanyanya dengan tangan mengelap noda ruam di pelipis Nara.
"Tidak perlu Kakak jawab, kita langsung masuk saja. Aku rindu masakan Chef Steve." Lagi-lagi Sean dibuat tertawa gemas.
"Sean? Sudah lama tidak berkunjung. Ingin memesan hidangan seperti biasa?" ramah pramusaji yang sudah sangat kenal dengan Sean dan keluarga.
Ia tanggapi dengan gelengan kecil tak luput dari senyum manisnya. "Tolong menu yang biasa Nara suka," ucap Sean jelas.
Lengser dari pijakan awal untuk menyusun pesanan pelanggan setia tempatnya bekerja. Steve pamit setelah memberi tepukan beberapa kali pada bahu kanan Sean.
"Banyak mata yang memandang ke arah kita Kak, kenapa?"
"Karena Chefnya langsung yang meladeni kita. Mereka pasti iri, lagi pula Kakak dengar Steve cukup populer di sini. Penggemarnya banyak," jelas Sean sembari mencuri pandang ke Steve yang sedang memasak di sana.
"Bukan karena aku yang terlalu cantik?"
"Benar, karena kau terlalu aneh," sarkas Sean yang membuat Nara mengerucutkan bibir tak suka.
Selagi menunggu pesanan datang, Sean-Nara tak absen melucu demi menghalau kesepian. Terlebih Sean, satu hari ini adiknya ia anggurkan membosankan.
Candaan kakak beradik itu mengalir dengan sendirinya membuat tawa di antara keduanya enggan mereda. Hingga beberapa pasang mata menatap ke arah Sean dengan bingung. Sean tampak berdeham pelan meyadari tatapan beberapa pelanggan yang mungkin merasa terganggu. Beda dengan Nara yang masa bodoh keadaan sekitar.
"Akhir yang indah."
***
Sorry for typos
"Setengah jam lagi, sampai pekerjaanku selesai," tutup Sean kembali fokus pada berkas-berkas perusahaannya.
Dilihat dari sisi manapun, jelas tercetak ketidaksukaan Nara pada situasi sekarang. Mulut komat-kamit mengumpat sang Kakak sedang netra, tak henti menatap sinis Sean. Untung kakak.
Setengah jam yang Sean janjikan nyatanya molor hingga berjam-jam berikutnya. Tepat pukul lima sore barulah pria dewasa tersebut menutup laptop dan seperangkat berkas kerja lainnya. Fokusnya seketika jatuh pada Nara yang terduduk bersandar pada sofa, kakinya ia ayunkan keras sampai terdengar bunyi debuman.
Sean mendekat dan membawa Nara dalam pelukan, tak lupa melantunkan maaf sebab pekerjaan yang sungguh di luar perkiraan.
"Makan malam di tempat favoritmu sepertinya ide bagus." Sean mencoba bernegosiasi. Meski kesalahan ada pada Nara, gadis itu yang memaksa ikut. Namun, pria memang tempatnya kesalahan, seorang kakak ditakdirkan harus selalu mengalah, dan perempuan tidak pernah salah. Maka lengkap sudah cobaan hidupnya.
Perubahan ekspresi Nara yang semula cuek-cuek saja mulai mengembangkan senyum kecil. Menoleh pada Sean dan menyetujui penawaran menggiurkan tersebut.
"Untung sayang," gumam Sean sepelan mungkin.
Di depannya Nara sudah berjalan dengan semangat, sesekali tangannya melambai pada staff kantor yang berada di kanan-kiri ataupun sekedar melewatinya.
Sean tak mampu menyembunyikan tawanya. Tingkah kekanakan Naralah yang menyebabkan pria sedingin Sean menguarkan tawa di hadapan umum. Sontak saja para pegawai lainnya dibuat terpesona. Yang selama ini teramat segan untuk tersenyum padanya sekarang mereka bahkan mereka ikut tertawa.
"Manager kita sedang dalam suasana hati yang bagus."
"Tuhan menciptakan Pak Sean sembari tersenyum."
"Inilah yang disebut ketampanan yang hakiki."
Begitu kurang lebih bisik-bisik pegawai kantornya. Sepanjang Sean melintas, nihil prasangka buruk yang mereka bicarakan. Sebagian besar kaum hawa yang mengaku jatuh cinta sejak pandang pertama padanya semakin tergila-gila. Dan jajaran para kaum sebangsa Sean yang tersentil jiwa ketampanan mereka tampak minder.
***
"Kenapa lama sekali mengemudinya sih Kak, aku sudah tidak sabar," semprot Nara di tengah perjalanan.
"Lihat ke depan sayang." Kuda besi yang mereka naiki terjebak macet karena lampu merah. Antrian cukup panjang, untuk melaju saja cukup tiga meter paling besar. Belum lagi pengendara sepeda motor yang menyalip sana-sini.
"Ckk, seharusnya kita terbang saja." Tak Sean hiraukan. Biarlah adik cantiknya itu menggerutu sampai puas. Diam-diam bibirnya terbirit senyum simpul, dan usapan pada pualam Nara yang memerah sebab menahan emosi.
Satu jam setelah menghadapi kemacetan yang menyebalkan, Sean-Nara sampai pada restaurant yang mereka tuju. Langit mulai menggelap bahkan tampak lebih gelap dari biasanya. Melirik ke tempat duduk sebelah, Sean mendapati Nara tertidur sembari memeluk seat belt.
"Hoam, Kak kenapa tidak membangunkanku. Kita sudah sampaikan? Berapa lama kita berdiam diri di sini. Oh astaga, di luar sedang hujan," heboh Nara dengan pertanyaan beruntunnya.
Sean terkekeh gemas dibuatnya "Harus kumulai dari mana untuk menjawab hmm?" tanyanya dengan tangan mengelap noda ruam di pelipis Nara.
"Tidak perlu Kakak jawab, kita langsung masuk saja. Aku rindu masakan Chef Steve." Lagi-lagi Sean dibuat tertawa gemas.
***
"Sean? Sudah lama tidak berkunjung. Ingin memesan hidangan seperti biasa?" ramah pramusaji yang sudah sangat kenal dengan Sean dan keluarga.
Ia tanggapi dengan gelengan kecil tak luput dari senyum manisnya. "Tolong menu yang biasa Nara suka," ucap Sean jelas.
Lengser dari pijakan awal untuk menyusun pesanan pelanggan setia tempatnya bekerja. Steve pamit setelah memberi tepukan beberapa kali pada bahu kanan Sean.
"Banyak mata yang memandang ke arah kita Kak, kenapa?"
"Karena Chefnya langsung yang meladeni kita. Mereka pasti iri, lagi pula Kakak dengar Steve cukup populer di sini. Penggemarnya banyak," jelas Sean sembari mencuri pandang ke Steve yang sedang memasak di sana.
"Bukan karena aku yang terlalu cantik?"
"Benar, karena kau terlalu aneh," sarkas Sean yang membuat Nara mengerucutkan bibir tak suka.
Selagi menunggu pesanan datang, Sean-Nara tak absen melucu demi menghalau kesepian. Terlebih Sean, satu hari ini adiknya ia anggurkan membosankan.
Candaan kakak beradik itu mengalir dengan sendirinya membuat tawa di antara keduanya enggan mereda. Hingga beberapa pasang mata menatap ke arah Sean dengan bingung. Sean tampak berdeham pelan meyadari tatapan beberapa pelanggan yang mungkin merasa terganggu. Beda dengan Nara yang masa bodoh keadaan sekitar.
"Akhir yang indah."
***
Sorry for typos
Tidak ada komentar:
Posting Komentar