Kamis, 31 Oktober 2019

Pesan dari Surat Kabar (menuju ending III)


"Dean, sadarlah." Bukan hanya satu-dua kali kalimat yang sama terlontar dari mulut James dan kawan-kawan. Pasalnya, kelakuan teman seangkatan masa kuliahnya dulu tidak dapat ia terima nalar.

"Maaf ya Kak James, Kak Dean memang selalu berlebihan," sambar Nara cepat.

"Tidak Nara, dan asal kau tahu saja pria licik di hadapanmu itu yang berlebihan. Mendiagnosis gejala pasti saja sampai harus memanggil Prof. Loey dan Dokter Choi," balas Dean sewot. Pandangannya seakan menghunus James dengan seribu belati sehabis diasah.

James, Willis, Dylan, dan satu orang Perawat wanita saling bertukar pandang. Mereka bertanya dalam bahasa gestur, sedang James jengah dan memutar bola mata asal.

Satu persatu dari perkumpulan Dokter dan Perawat di kantin Rumah Sakit Greenword tersebut undur diri. Menyisakan Dean, James, dan Nara di sana.

"Kau tahu Dean, aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri. Jika terlalu berat, berbagilah padaku," tutup James sebelum enyah dari hadapan Dean dan Nara. Tepukan kecil ia sarangkan di bahu kokoh Dean.

Nara menatap kepergian James sendu, ada rasa tersendiri yang mengusik ketenangannya. Ia sudah terlampau banyak bermain peran, masih enggan buka suara dan mengembalikan Kak Deannya seperti semula.

"Semua salahku, karenaku."



***

Setelah puas menghabiskan waktu satu harian penuh dengan Kakak tertuanya, Nara merasa semuanya perlu ia akhiri lebih cepat. Besok, waktunya dengan Sean. Nara berharap Sean akan sedikit kosong demi menjaga waktu penuh untuknya. Sebagaimana yang Dean lakukan padanya

Jam menunjukkan pukul delapan malam, satu jam lau merek habiskan bercanda ria di meja makan. Bahkan Proffesor Duke ikut berpartisipasi di sana, pria lanjut usia yang paling sibuk selama hidup Nara yang ia kenal. Tapi, rela membatalkan rapat penting sesama mitra kerjanya.

Tawa dan kekehan keras ketiga pria di sana melihat bagaimana menggemaskannya Nara ketika merajuk meminta izin ikut pelajaran olahraga. Selama ini, tak pernah sekalipun ia merasakan berlarian dan bermain basket bersama teman-teman sekolahnya.

"Kak Sean aku mohon, izinkan aku ya hmm kali ini saja. Aku berjanji tidak akan kelelahan."

"Kalau begitu jangan ikut ke kantorku besok," ucap Sean lembut. Pandangannya tak lepas dari seperangkat alat makannya.

"Kakak... mana bisa seperti itu."

"Kenapa tidak bisa?" tanya Proffesor Duke penasaran.

Meski rautnya tampak tak suka, Nara melanjutkan "With second bro, am I right?" Ia merasa terpojok dengan tatapan mengintimidasi kedua kakak dan Ayah angkatnya ini.

Dean mendengus ringan, dan kekehan kembali Sean tampilkan. "Ya ya baiklah, apapun untukmu," ucap Sean sembari mengusak gemas surai legam sang adik.

Proffesor Duke ikut tertawa, sesekali netranya memperhatikan Dean-Sean prihatin. Bibirnya mungkin melihatkan tawa lebar dan semburan lawak membahana tapi, hatinya berteriak kesakitan. Ia mengakui Nara putrinya maka kedua kakak gadis itu juga putranya.

Melihat ketulusan senyuman ditiap lengkungan yang kedua pria dewasa itu tunjukkan. Membekas nyeri sendiri di dasar relung Proffesor Duke. Tak sampai hati menanyakan perihal hati.

"Entah kenapa aku benci sekali dengan kalian tapi, tetap cinta dengan kalian." Begitu seterusnya. Godaan menyenangkan bagi Dean-Sean yang menyulut emosi Nara.

Ruang makan malam itu terdengar riuh sekali, suasana pecah dengan tawa riang pemilik rumah. Sahut-sahutan tiada henti memenuhi percakapan keempat orang tersebut.

Di ujung sana, di balik lemari pendingin dekat meja makan. Pembersih rumah Dean dan kedua adiknya menatap sendu senda gurau kakak beradik tersebut. Air matanya yang berbicara sebab mulut tak mampu menjabarkan kenyataan pahit masa ini.


***








Sorry for typos

Tidak ada komentar:

Posting Komentar