Rabu, 30 Oktober 2019

Pesan dari Surat Kabar (menuju ending II)

Begitu banyak bahasa dan istilah kedokteran dalam bahasan mereka yang membuat Sean bingung sendiri. Beberapa teori penjelasan dari Proffesor Duke bahkan menguap begitu saja baginya. Pneumonia sampai Generalized Anxiety Disorder, sedang terjadi konflik batin pada ketiga makhluk hidup sekelas manusia di sana.

Terlalu bodoh jika bertanya arti panjangnya kalimat dua orang Dokter itu. Sedang ia tahu, kondisi adiknya semakin memburuk. Dean terpekur menyelami pandangan kosongnya ke sebuah figura berisi air terjun, berlembar-lembar kertas putih di hadapan Prof. Duke bahkan menyerupai kulit Kerbau kering.

Di luar sedang berlangsung hujan cukup deras namun, tak terdengar geraman bergetar dari langit. Posisi duduk yang kian gusar beserta hati bertambah risau, Sean bangkit sembari memasukan tangan pada saku celananya.

"Insiden di ruang olahraga bulan lalu, Nara tak merasakan apapun," ungkap Dean.

Anggukan Prof. Duke memperjelas semuanya. Bahkan tepukan hangat ia hunuskan tepat di bahu Sean yang masih setia duduk di depannya.

"Nara dia..."

Tiba-tiba saja pintu ruangan Prof. Duke terbuka lebar dan menampilkan gadis yang tengah mereka perbincangkan berdiri di depan sana. Seragam sekolahnya tampak sempurna menempel di tubuh rampingnya, ransel kuning muda turut bertengger apik pada punggung kecilnya.

"Wah, kalian pasti merindukanku. Benar?"

Tanpa kata, Sean memberi jawaban dengan pelukkan tegasnya. Menuntun Nara perlahan dan membawanya dalam gendongan setelah langkah keempat. Gadis berambut sepunggung itu memekik ringan namun tertawa setelahnya.

Sampai mendarat di alam sofa, Dean memutar langkah menuju Nara, guna memberikan kecupan singkat pada dahi gadis tersebut. Prof. Duke yang meyaksikan meneteskan air mata. Dua bocah yang selalu berebut sepeda merah roda empat dahulu, kini telah tumbuh menjadi seorang kakak yang luar biasa hebat dan sempurna bagi adik bungsu mereka.

Ada kisah di baliknya, bagaimana sikap possesif dan antisosial kedua lelaki bersaudara tersebut ciptakan. Terlalu mengharukan jika kembali dibahas sekarang.

"Kalian tahu bucin?" tanya Nara di antara Dean dan Sean. Kemudian bertanya melalui tatapannya pada Prof. Duke di depan sana.

Ketiga pria itu menggeleng bersamaan, menyembutkan tawa geli dari Nara yang sedari tadi menahan ledakan tawanya.

"Sepertinya mereka memang bucinku Prof hahaa...."

Sampai merah pipi dan telinganya merasa amat lucu, sesekali gadis berseragam itu menyusut air matanya yang keluar perlahan. Amat menggelikan.

"Budak cinta," eja Sean setelah memeriksa dari laman pencarian di internet.

"Kakak dan Kak Dean, tentu saja," sambung Nara sembari menunjuk kedua kakaknya bergantian.

Meski sulit dan teramat sakit, tertawa adalah satu-satunya ekspresi yang ketiga kaum adam di sana laukukan. Teramat, khususnya mereka bukan baru mengenal gadis ini delapan atau sepuluh tahun. Setengah dari umur Prof. Duke telah ia terapkan untuk menjaga dan melindungi anak-anak sahabat karibnya.

Tiga puluh tiga tahun lalu di Rumah Sakit tempatnya bekerja kini. Hingga sudah lebih dari kepala enam, rasa sayangnya semakin besar tanpa kata luntur. Mendiang istri tercinta yang begitu berharap pada kelahiran bayi perempuan mereka namun, takdir berkata lain dan membawanya pergi bersama sang buah hati pada kehidupan yang abadi.

Dua tahun setelahnya, lahirnya Nara menghadirkan rasa sayang seorang Ayah kembali lagi. Prof. Duke muda teramat bahagia sampai mengangkat Nara bayi menjadi putri angkatnya. Keluarga Nara bahkan tak ambil pusing dan ikut berbahagia. Saat itu, kecerian Prof. Duke muda seakan membara.

Disaat yang bersamaan, lahirnya bayi perempuan cantik jelita itu merosotkan semangat hidup semua orang di sana. Ayah dan Ibu bayi, kedua kakak laki-lakinya yang masih duduk di bangku SD pun dengan Proffesor Duke sendiri.

Harapan baru dan kebahagian baru muncul bersama tamparan sarkas yang menyayat pilu. Meski sedih hingga meluruh dan benci tak boleh menderu, inilah permainan takdir yang bertahun-tahun lalu setia tegar dihadapi orang-orang di sekeliling Nara. Orang-orang yang amat sangat menyayangi dan mencintainya.


***











Sorry for typos

Tidak ada komentar:

Posting Komentar