Senin, 16 September 2019

Pesan dari Surat Kabar


Pesan dari Surat Kabar

Pagi dalam keterhenyakan rintik hujan, malas sekali rasanya untuk sekedar beranjak. Mandi pun seperti halnya air langit mengguyur bumi, seakan bidang kecokelatan itu diriku. Ketukan kecil dari luar membuatku beranjak malas-malasan. Sembari menuju pintu, kulirik weker panda di atas nakas menunjukkan pukul delapan pagi.

"Lanjutkan nanti hibernasimu, sarapan sudah selesai."

Lenyap katanya seiringan dengan siluetnya yang menjauh. Kaos oblong putih seperti gorden itu membuatku muak. Sean, saudara kandungku yang tingginya bukan main dan paling menyebalkan. Usia kami terpaut 7 tahun, diusianya yang hampir menginjak kepala tiga, pria itu tak kunjung memiliki kekasih.

Tuturnya yang singkat, tidak suka berbasa-basi, me is myself adalah semboyannya. Pria tua itu terlalu kolot dalam masalah percintaan. Biarkan saja dia mengurus hidupnya.

"Kau ini masih saja keras kepala," begitu aku sampai di ruang makan, omelan kakak tertuaku mengalun seperti biasanya.

Dean Samudra, seorang dokter ahli bedah Kardiotoraks. Meski sering menasihati Sean seputar asmara, nyatanya mereka berdua sama saja. Di depanku kakak keduaku itu santai melahap toast dan kawan-kawan tanpa menghiraukan Dean yang masih melantunkan lagu lamanya.

"Nara, kau jangan seperti kami. Tidak baik seorang perempuan terlalu tertutup, jika ada apa-apa ceritalah padaku atau Sean. Mengerti?"

Kalau sudah begini, mau menghindarpun percuma saja. Maka yang bisa kulakukan hanya mengangguk sembari menyambar segelas air yang sudah tersedia. Lirikan dari arah depan membuatku menatapnya balik. Dan selanjutnya tatap-tatapan tajam terjadi antaraku dengan Sean.

"Apa?" sarkasku merasa jengah

"Sudah, jangan mulai. Sean kau bukan anak kecil lagi, Nara cepat selesaikan sarapanmu. Setelah itu ikut kakak ke Rumah sakit,"

Akhir pekan seperti ini, biasa kami habiskan dengan bersantai di rumah. Berhubung kedua kakakku itu makhluk langkah penggila keheningan. Maka, tidak ada istilah jalan-jalan kalau tidak aku yang lebih dulu bersuara atau memaksa lebih tepatnya.
Tapi, karena hari ini jadwalku medical check-up. Setidaknya aku dan Dean harus keluar.

Sarapan berlangsung tenang setelah drama keributan beberapa saat lalu. Sampai aku dan Dean pamit untuk ke Rumah sakit, Sean mengerjakan sketsa proyek kerjanya di rumah bersama Lean, kucing hitam peliharaan kami.

"Ayah akan pulang dalam beberapa hari ke depan tapi, kakak tidak jamin menetap terlalu lama."

"Ibu?" sahutku menatap ke arah Dean yang fokus dengan kemudinya.

Pria itu menggeleng, sebelah tangannya menepuk pundakku pelan. Fokusnya masih pada jalanan di depan sana tapi, lisannya mengudara- "Ibu berjanji, pada wisuda kelulusanmu nanti beliau akan pulang." bersama kernyitan ganjil di dahinya.

"Aku rindu sekali dengan Ibu Kak," ungkapku menatap keluar jendela. Setidaknya pemandangan pagi ini tidak membuatku sedih.

"Kakak dan Sean pun sama, begitu juga dengan Ayah."

Selanjutnya tak terjadi obrolan lagi diantara kami sampai, kuda besi Dean berhenti di pelataran Rumah Sakit Greenword.

Sesuai namanya, Rumah Sakit ini tampak asri dengan banyaknya tumbuhan hidup disetiap sudut. Beberapa Perawat dan Dokter yang lalu lalang tampak menyapa Dean saat kami menuju ruangannya. Ketika seorang Dokter perempuan muda beraura kalem sedikit berbincang padanya. Tak ayal pula langsung kujadikan bahan candaan. Membuatnya merona sebal, lucu sekali.

"Serius Kakak tidak suka dengannya?" godaku, lantas pria itu mendengus sekenanya.

Sudah kubilang, kedua kakakku ini aneh bukan. Aku takut mereka berdua adalah gay, astaga.

"Selamat pagi Dokter Dean, ketua umum bedah jantung meminta saya memberikan ini pada anda," seorang perempuan dengan jas Dokternya menghampiri kami yang baru saja tiba di depan pintu ruangan Dean. Dan menyerahkan potongan surat kabar pada kakakku. Yang diterimanya sembari menatapku lekat. Sama lekatnya dengan pandangan Dokter perempuan yang memberinya potongan surat kabar tersebut.

Benakku bertanya-tanya "Ada apa dengan mereka?"





***






Selamat membaca...

16 komentar:

  1. Masih ada kelanjutannya kah?

    Ada beberapa tanda koma yang sepertinya penyimpanannya kurang tepat, sehingga kalimat menjadi rancu. (maaf)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih koreksinya kak☺, btw bisa ditunjuk dimana letak tanda komanya yang salah?🤔

      Hapus
  2. kami terpaut 7 tahun, harusnya kalo masih bisa dijabarkan jabarkan saja. Kami terpaut tujuh tahun.

    "Kau ini masih saja keras kepala," begitu aku sampai di ruang makan, omelan kakak tertuaku mengalun seperti biasanya. (Jangan pake tanda koma sblum tanda petik kalo menyiratkan tindakan.)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dialog di atas masih dalam satu kalimat atau kata lain dialognya itu masih nyambung, cuma terpisah dengan dialog tag. Makanya dialog pertama diakhiri dengan tanda koma.

      Hapus
  3. menurutku, kurang klimaks kak.
    apakah krn cerbung?
    .

    BalasHapus
  4. suka sekali baca kisah nyata yang dituang kaya baca fiksi hehehe, ada kelanjutannya kan kak? semangat selalu ^^

    BalasHapus