Pesan dari Surat Kabar
"Lanjutkan nanti hibernasimu, sarapan sudah selesai."
Lenyap katanya seiringan dengan siluetnya yang menjauh. Kaos oblong putih seperti gorden itu membuatku muak. Sean, saudara kandungku yang tingginya bukan main dan paling menyebalkan. Usia kami terpaut 7 tahun, diusianya yang hampir menginjak kepala tiga, pria itu tak kunjung memiliki kekasih.
Tuturnya yang singkat, tidak suka berbasa-basi, me is myself adalah semboyannya. Pria tua itu terlalu kolot dalam masalah percintaan. Biarkan saja dia mengurus hidupnya.
"Kau ini masih saja keras kepala," begitu aku sampai di ruang makan, omelan kakak tertuaku mengalun seperti biasanya.
Dean Samudra, seorang dokter ahli bedah Kardiotoraks. Meski sering menasihati Sean seputar asmara, nyatanya mereka berdua sama saja. Di depanku kakak keduaku itu santai melahap toast dan kawan-kawan tanpa menghiraukan Dean yang masih melantunkan lagu lamanya.
"Nara, kau jangan seperti kami. Tidak baik seorang perempuan terlalu tertutup, jika ada apa-apa ceritalah padaku atau Sean. Mengerti?"
Kalau sudah begini, mau menghindarpun percuma saja. Maka yang bisa kulakukan hanya mengangguk sembari menyambar segelas air yang sudah tersedia. Lirikan dari arah depan membuatku menatapnya balik. Dan selanjutnya tatap-tatapan tajam terjadi antaraku dengan Sean.
"Apa?" sarkasku merasa jengah
"Sudah, jangan mulai. Sean kau bukan anak kecil lagi, Nara cepat selesaikan sarapanmu. Setelah itu ikut kakak ke Rumah sakit,"
Akhir pekan seperti ini, biasa kami habiskan dengan bersantai di rumah. Berhubung kedua kakakku itu makhluk langkah penggila keheningan. Maka, tidak ada istilah jalan-jalan kalau tidak aku yang lebih dulu bersuara atau memaksa lebih tepatnya.
Tapi, karena hari ini jadwalku medical check-up. Setidaknya aku dan Dean harus keluar.
Sarapan berlangsung tenang setelah drama keributan beberapa saat lalu. Sampai aku dan Dean pamit untuk ke Rumah sakit, Sean mengerjakan sketsa proyek kerjanya di rumah bersama Lean, kucing hitam peliharaan kami.
"Ayah akan pulang dalam beberapa hari ke depan tapi, kakak tidak jamin menetap terlalu lama."
"Ibu?" sahutku menatap ke arah Dean yang fokus dengan kemudinya.
Pria itu menggeleng, sebelah tangannya menepuk pundakku pelan. Fokusnya masih pada jalanan di depan sana tapi, lisannya mengudara- "Ibu berjanji, pada wisuda kelulusanmu nanti beliau akan pulang." bersama kernyitan ganjil di dahinya.
"Aku rindu sekali dengan Ibu Kak," ungkapku menatap keluar jendela. Setidaknya pemandangan pagi ini tidak membuatku sedih.
"Kakak dan Sean pun sama, begitu juga dengan Ayah."
Selanjutnya tak terjadi obrolan lagi diantara kami sampai, kuda besi Dean berhenti di pelataran Rumah Sakit Greenword.
Sesuai namanya, Rumah Sakit ini tampak asri dengan banyaknya tumbuhan hidup disetiap sudut. Beberapa Perawat dan Dokter yang lalu lalang tampak menyapa Dean saat kami menuju ruangannya. Ketika seorang Dokter perempuan muda beraura kalem sedikit berbincang padanya. Tak ayal pula langsung kujadikan bahan candaan. Membuatnya merona sebal, lucu sekali.
"Serius Kakak tidak suka dengannya?" godaku, lantas pria itu mendengus sekenanya.
Sudah kubilang, kedua kakakku ini aneh bukan. Aku takut mereka berdua adalah gay, astaga.
"Selamat pagi Dokter Dean, ketua umum bedah jantung meminta saya memberikan ini pada anda," seorang perempuan dengan jas Dokternya menghampiri kami yang baru saja tiba di depan pintu ruangan Dean. Dan menyerahkan potongan surat kabar pada kakakku. Yang diterimanya sembari menatapku lekat. Sama lekatnya dengan pandangan Dokter perempuan yang memberinya potongan surat kabar tersebut.
Benakku bertanya-tanya "Ada apa dengan mereka?"
***
Selamat membaca...
Mantap kak #semangat
BalasHapusMasih ada kelanjutannya kah?
BalasHapusAda beberapa tanda koma yang sepertinya penyimpanannya kurang tepat, sehingga kalimat menjadi rancu. (maaf)
Makasih koreksinya kak☺, btw bisa ditunjuk dimana letak tanda komanya yang salah?🤔
Hapuskami terpaut 7 tahun, harusnya kalo masih bisa dijabarkan jabarkan saja. Kami terpaut tujuh tahun.
BalasHapus"Kau ini masih saja keras kepala," begitu aku sampai di ruang makan, omelan kakak tertuaku mengalun seperti biasanya. (Jangan pake tanda koma sblum tanda petik kalo menyiratkan tindakan.)
Dialog di atas masih dalam satu kalimat atau kata lain dialognya itu masih nyambung, cuma terpisah dengan dialog tag. Makanya dialog pertama diakhiri dengan tanda koma.
HapusBagus, Kak. Keep posting 💪
BalasHapusBagus
BalasHapusKeren kak
keren kak
BalasHapusmenurutku, kurang klimaks kak.
BalasHapusapakah krn cerbung?
.
Keren kak, lanjutkan
BalasHapusBaguss
BalasHapusGood!
BalasHapusGood!
BalasHapus😍😍😍😍
BalasHapusBagus kK, semangat ya...
BalasHapussuka sekali baca kisah nyata yang dituang kaya baca fiksi hehehe, ada kelanjutannya kan kak? semangat selalu ^^
BalasHapus